Profesor Gayatri Spivak, seorang intelektual dan dosen Comparative Literature di Columbia University New York menyampaikan gagasan-gagasan menarik dalam kuliah umum Sabtu dan Minggu, 4 dan 5 Maret kemarin. Lahir di India, Profesor Spivak semula mendalami Sastra Inggris sebelum akhirnya beralih ke Comparative Literature dan aktivis social. Beliau merasa bahwa interdisciplinary studies membuatnya mampu menembus sekat keilmuan dan bahkan mempertanyakan pengajaran Sastra Inggris yang sudah ada dengan landasan teory yang disebut teori poskolonial. Beliau sendiri tidak sadar bahwa dia melakukan kritik poskolonial ketika mengajarkannya. Mengambil alih gagasan Antonio Gramsci tentang subaltern, Spivak membuat teori dan mempertanyakan keyakinan para pakar poskolonial atas kemampuan subaltern untuk bicara. Kasus di India, seperti yang dia katakan dalam Can Subaltern Speak?, kelompok subaltern ini ternyata merupakan entitas yang komplek melibatkan banyak lapisan strata social. Sering terjadi, mereka yang mengaku sebagai subaltern ternyata orang dengan latar pendidikan barat dan tidak mengenal lapisan social bawahnya, apalagi yang paling tersingkir dari yang tersingkir. Dalam kuliahnya Sabtu lalu, Profesor Spivak mendifiniskan subaltern sebagai mereka yang sama sekali terpotong dari perbaikan nasib, yaitu mereka yang tidak memiliki daya tawar dan kesempatan untuk memperbaiki nasib mereka yang marginal. Sebagai intelektual yang memiliki kepedualian terhadap kelompok subaltern, beliau sering pulang ke India untuk memberdayakan mereka yang disebutnya sebagai “aborijin India” – kelompok paling bawah yang terisolasi dari perbaikan nasib. Beliau menyadari bahwa selalu ada bahaya kecenderungan untuk melakukan apa yang sudah dilakukan oleh penjajah untuk jajahan. Oleh karenanya, sangat penting untuk selalu mengingat peringatan Paolo Freire bahwa selalu ada bahaya sang terjajah menjadi penjajah kecil. Kunjungan Profesor Spivak ke USD merupakan peristiwa intelektual monumental, mengingat beliau adalah tokoh akademis dan sosial yang sering dibicarakan dan berasal dari universitas bergengsi pula. Baik kiranya kalau acara semacam ini, dengan melibatkan berbagai pembicara lain, dilakukan satu atau dua kali setahun dengan melibatkan lebih banyak dosen USD maupun universitas tetangga. USD juga mengucapkan terimakasih kepada IRB, Kunci Cultural Studies, Cemeti Art Gallery dan Kedai Kebun atas kerjasamanya sehingg acara ini dapat terlaksana dengan baik.




