Pernyataan tersebut ditandaskan oleh Darmanto Jatman dari Universitas Diponegoro ketika mengungkapkan bahwa menurut sejarah pada tahun 1939, Prof. Dr. I. J Brugmans diberi tugas pemerintah Belanda untuk mengadakan penelitian tentang pendirian sebuah Faculteit der Letteren. Dalam laporannya dikemukakan perlunya memberi matakuliah filsafat untuk membekali para sarjana pandangan kritis terhadap metode berpikir dan pengetahuan sendiri serta memperbandingkan alam pikiran dan sikap hidup Barat dan Timur. Dalam laporan itu jelas terungkap pandangan Brugmans bahwa berbeda dengan India, Indonesia tidak mempunyai filsafat asli, sehingga pelajaran lebih ditekankan pada pelajaran filsafat Barat. Disinilah jasa dari Dr. P. Zoetmulder yang menanggapi Brugmans yang menyangkal tiadanya filsafat asli (Jawa), karena menurut Zoetmulder, dalam kebudayaan Jawa telah ditemukan usaha mencari dasar awal segala sesuatu, renungan-renugan tentang apa yang terjadi di balik wujud lahir dan sebab terdalam di dalamnya, dengan perincian: 1. Arti hidup manusia, asal mula dan akhir kehidupan (Sangkan Paraning Dumadi) 2. Hubungan manusia – Tuhan – Dunia. Hal tersebut terungkap dalam Seminar Nasional “Meninjau Kembali Kajian Jawa” untuk memperingati 100 tahun Prof. Dr. P.J. Zoetmulder, S.J, yang digelar di ruang Driyarkara Gedung Perpustakaan Kampus II Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang berlangsung tanggal 9-10 Februari 2006 lalu. Seminar yang dibuka oleh Dr. Paulus Suparno S.J (Rektor USD) ini dihadiri lebih kurang 150 peserta yang berasal dari bebagai kalangan baik dosen, mahasiswa, peneliti dan pemerhati budaya independen dari berbagai institusi. Lebih jauh dalam makalahnya yang berjudul “Bayangan Manusia dalam Manunggaling Kawula Gusti dan Also Sprach Zarathustra”, St. Sunardi (Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, USD), yang juga hadir sebagai pembicara, mengungkapkan bahwa karya Manunggaling Kawula Gusti merupakan sebuah kesaksian tentang cara orang mengambil jarak dari apa saja yang dianggap ortodoks termasuk ortodoksi agama. Bangsa Indonesia mempunyai tradisi kerohanian yang begitu kaya. Kaya dalam arti bahwa kandungannya membuat orang menjadi semakin bebas, bisa mengambil jarak dari agama. Saat ini, semangat itu kita butuhkan terutama saat orang semakin sulit untuk mengambil jarak dari apa yang disebut agama. Yang menarik, dalam seminar ini juga terungkap kembali tentang arti “Sanata Dharma” yang masih menimbulkan tanda tanya. Dalam buku “Sanata Dharma Menemukan Jalannya” (edisi revisi 1998), nama Sanata Dharma diartikan “perbuatan luhur yang nyata”. Kata “yang nyata” agaknya dianggap berasal dari kata Jawa Kuno “sanyata”. Memang benar, di halaman 1206 kamus Zoetmulder ditulis: In rare cases nyata = niyata, dan arti “niyata” di halaman 1201: certain, evident, obvious, really, in truth, sure. Tetapi dalam kamus itu tidak ditemukan kata “sanyata”. Di halaman 1581 kamus yang sama, kata “sa” dinyatakan sebagai “abbreviation”, tetapi dalam tanda kurung ditulis : of what? Dibawahnya juga ada kata “sa” yang dinyatakan sebagai “abbreviation of Sanaiscara”, Saturday. P.Swantoro (Wartawan Kompas) yang hadir sebagai keynote speech dalam seminar ini mengungkapkan kecenderungannya yang mengartikan kata “Sanata Dharma” dari kata “Sana”. Dalam kamus Zoetmulder, kata “sana” dinyatakan sama dengan “asana” = place, abode (hl 1646). Dan “ta” hanyalah “emphatic particle” (hl. 1892). Sehingga arti “Sanata Dharma” adalah “Tempat untuk Melakukan Perbuatan Luhur”. Dari kedua makna di atas, manakah makna yang benar dari “Sanata Dharma”? Silahkan para pakar memberikan pendapatnya.




