USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

USD SEBAGAI MERCUSUAR AKADEMIK DAN KEMANUSIAAN

diupdate: 21 tahun yang lalu

“Visi dan misi Universitas Sanata Dharma sebagai sumber pengembangan ilmu dan kemanusiaan masih sesuai dengan kebutuhan jaman. Kekhasan lembaga ini yang memadukan harmoni keilmuan dan kemanusiaan dengan segala keterbatasannya diharapkan menjadi Mercusuar yang membawa terang dalam samudera kehidupan yang kadang kelam”, demikian diuraikan Dr. Novita Dewi dosen S2 Kajian Bahasa Inggris USD dalam acara Orasi Puncak Pesta Emas Sanata Dharma di Kampus 3 Paingan Sabtu (17/12). Novita menjelaskan bahwa saat ini melalui globalisasi ekonomi dan kemajuan teknologi telah terjadi gelombang dehumanisasi. Novita mengutip tulisan Bell bahwa dalam masyarakat pasca industri mau tidak mau kita harus menguikuti tren ekonomi baru dengan menurunnya industri perpabrikan dan berkembangnya sektor pelayanan. Dampak sosial ekonomi perubahan ini adalah semakin berperannya “intelectual capital”. Saat ini pengetahuan bukan sebagai kapital tetapi juga komoditi. “Globalisasi ekonomi mengubah eksistensi universitas. Saat ini universitas menjadi institusi yang mudah diatur oleh pemerintah atau perusahaan besar untuk kepentingan tertentu, misalnya produksi senjata”, tambah alumnus S3 National University of Singapore ini. “Lembaga pendidikan tinggi di Indonesia juga terpaksa tunduk pada ekonomi pasar. Proses pendidikan terabaikan karena orientasi utama adalah hasil. Universitas yang baik adalah universitas yang mencetak sarjana (yang belum tentu baik) untuk segera masuk ke dunia kerja”, tambah dosen yang juga mengajar di Jurusan Sastra Inggris ini. Untuk itu, lanjut Novi, hal yang perlu dilakukan adalah bahwa perguruan tinggi perlu melakukan “eksperimen akademis” lewat kajian budaya yang meta-disipliner, politis dan tekstual agar mampu berperan aktif, kreatif, dan insipiratif dalam mempengaruhi produksi budaya demi masa depan bangsa tanpa harus menjadi eksklusif dan terasing dari lingkungannya. Bagaimana dengan Sanata Dharma? Meskipin tertatih-tatih USD juga berusaha melakukan eksperimen ini dengan mengenalkan pendekatan humanisme liberal melalui teori Poskolonial, Feminisme, Marxisme dll. Hal ini menurut Novita dapat dibuktikan dengan berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh banyak jurusan di USD. Sanata Dharma harus mampu memposisikan diri sebagai mercusuar. “Mercusuar dapat dimetaforkan sebagai sebuah bangunan yang tegar terhadap hempasan angin, badai dab gelombang laut sepanjang waktu, mercusuar tegak menjulang langit membantu navigasi lalulintas air dengan menunjukkan titik-titik rawan sekaligus memberi arahan jalur-jalur aman menuju pantai agar kapal-kapal berlabuh dengan selamat. Mercusuar mempunyai elemen penting, yakni lampu lengkap dengan reflektor yang ditempatkan di puncak menara bangunan itu agar ia mampu menjalankan tugasnya dengan baik”, kata Novita. Bagaimana mercusuar Sanata Dharma? “Apakah mercusuar Sanata Dharma selalu diarahkan ke posisi yang memungkinkan kita melihat dunia luar sekaligus menangkap umpan balik bagi USD? Mungkinkah mengarah ke dalam saja untuk mengagumi atau bahkan menyalahkan diri terus menerus?”, demikian ajakan Novita Dewi untuk merenungkan peran USD di Pesta Emas. Selain Orasi, dalam Puncak Pesta Emas ini juga dianugerahkan “Sanata Dharma Awards” kepada SMA Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga dan beberapa penghargaan kepada dosen, karyawan, dan mahasiswa berprestasi. Seperti tradisi yang telah ada, setiap acara Dies Rektor menyampaikan laporan tahunannya kepada segenap civitias akademika. (Tti/Atk/Rjl)

  kembali