Di tengah terpuruknya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang korup, kurang toleran, mudah marah, dan kualitas pendidikannya tertinggal, Perguruan Tinggi, khususnya USD, diharapkan mampu menyumbangkan pendidikan yang etis dan terbuka kepada generasi muda. Etis dalam arti bahwa pendidikan tidak sekedar mencetak profesional tetapi profesional yang memiliki etika dalam segala bidang yang digelutinya. Sedang terbuka di sini dapat dimaknai sebagai pendidikan yang memandang manusia sebagai manusia dan menghargai orang lain seperti menghargai diri kita sendiri. Demikian benang merah yang dapat ditarik dari talk show dengan tema “Pendidikan Manusia Indoensia Yang Etis dan Terbuka” pada acara Hari Ilmiah Dosen dalam rangka Pesta Emas Sanata Dharma Jumat (16/12) di Kampus 3 Paingan. Hadir sebagai nara sumber adalah enam orang doktor USD yang tahun 2005 ini baru menyelesaikan studinya, yaitu Dr. Fr. Ninik Yudianti, M.Acc. (Akuntansi FE), Dr. Hery Marijo (Manajemen FE), Dr. T. Sarkim (PFis), Dr. Retno Muljani (PBI-FKIP), Dr. FX. Mukarto (PBI-FKIP), dan Dr. YB. Prasetyantha (Teologi). Di bidang Akuntansi menurut Ninik para mahasiswa perlu didorong untuk memiliki tanggung jawab sosial dalam profesinya sebagai akuntan agar mampu memberikan laporan keungan yang dapat dipertanggungjawabkan, benar, jujur, dan adil. “Prosentase pengajaran masalah etika, nilai, dan perilaku profesional melalui pendidikan akuntansi masih sedikit dan masih diragukan sejauh mana dosen meyelipkan etika pada mata kuliah akuntansi yang diajarkannya’, papar lulusan S3 UGM dan S2 Southern Illinois University USA ini. Sedang menurut Hery Marijo saat ini banyak perusahaan bahkan termasuk stafnya belum mengimplementasikan tanggungjawab sosialnya kepada masyarkat. “Mereka sekedar mencari untung sebesar-besarnya dan menghalalkan segala cara”, kata doktor alumnus Universitas Brawijaya ini. Untuk membantu para mahasiswa dapat bersikap kritis Retno Muljani menekankan pentingnya pemahaman teks secara kritis dan efektif. Dengan demikian diperlukan terobosan-terobosan untuk meningkatkan ketrampilam mahasiswa berpikir dan membaca secara kritis dan reflektif. Ide ini didukung oleh pernyataan T. Sarkim yang telah menyelesaikan studi S3 di Unviersity of Melbourne Ausi bahwa pengajaran reflektif merupakan sebuah alternatif untuk menjadikan pendidikan tidak berhenti pada tataran kognitif tetapi pada tataran nilai. Pendidikan reflektif merupakan suatu proses siklus yang mengarah pada pembangunan makna. Makna dibangun ketika kesadaran diciptakan melalui pengamatan dan pengumpulan informasi, menganalisis data untuk mencari implikasi dari data itu, merumuskan hipotesis untuk menjelaskan peristiwayang mungkin terjadi dan melaksanakan suatu rencana. “Melalui pendidikan semacam ini para lulusan mampu membangun diri dan karyanya dalam konteks sosial budayanya dan mampu membantu para muridnya berkembang mencapai pribadi yagn dewasa sehingga mampu mengambil peran dan tanggungjawab di dalam masyarakat.”, tegas Sarkim. Sementara Y.B. Prasetyantha lulusan S3 Gregoriana Roma menekankan pentingnya semangat multi budaya diberikan kepada peserta didik, F.X. Mukarto tetap memandang perlu standarisasi pendidikan nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. "Ujian Nasional hendaknya digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan agar di kemudian hari dapat dipetakan pembinaan dan pemberian bantuan", tambah dokotor lulusan Universiti Sains Malaysia ini (Tti/Atk/Rjl)




