Dalam rangka menyambut Frankfurter Buch Messe 2015, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) dan Wakil Rektor IV USD, bekerja sama dengan Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) menyelenggarakan World Literary Event 2014 pada hari Selasa, 16 September 2014.
Event yang digelar di Ruang Koendjono, Gedung Pusat Kampus II USD ini menghadirkan novelis ternama Indonesia, Ahmad Tohari - penulis trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk” dan penulis novel Kinanthi - Margaretha Widhy Pratiwi. Tak kalah pentingnya, acara yang memiliki tujuan utama mempertemukan kasusastraan Nusantara-Jerman, turut menghadirkan Konselor Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Michael Hoffman.
Dalam sesi pembukaan, selaku Rektor Universitas Sanata Dharma, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D memberikan sambutan serta menyampaikan bahwa sesungguhnya Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alamnya, tetapi juga kaya akan karya sastranya. “Melalui karya sastra, masyarakat bisa merefleksikan pengalaman hidup pahit dan menemukan makna di balik peristiwa untuk menyebuhkan luka-luka di hidup.” demikian ucap beliau. Dalam sambutannya, ia juga berpesan kepada mahasiswa, dosen, dan segenap hadirin yang datang dalam acara tersebut untuk terus berkarya dan menghasilkan karya sastra demi melestarikan budaya sastra Indonesia.
Sebelum Konselor Kedutaan Besar Jerman di Indonesia, Michael Hoffman, menyampaikan mengenai Jerman-Indonesia dan inaugural Frankfurter Buch Messe 2015, sesi selanjutnya diawali dengan pembacaan cuplikan karya sastra Jerman, berupa novel yang berjudul Tschick (Wolfgang Herrendorf) oleh Siswi SMA Negeri 3 Yogkarta, Nida Arsanti dalam bahasa Jerman. Selain itu, acara ini turut dimeriahkan dengan pembacaan kidung dan saloka oleh beberapa seniman dari Bali, I Nyoman Cau Arsana beserta dua rekannya.
Michael Hoffman memberikan presentasi singkat mengenai Frankfurt Book Fair yang akan dilaksanakan pada tahun 2015. Frankfurt Book Fair adalah salah satu pameran buku terbesar yang menghubungkan kerja sama internasional Jerman dan Indonesia. Indonesia merupakan negara pertama di ASEAN yang ditunjuk untuk melaksanakan event tersebut. Hoffman menjelaskan beberapa alasan mengapa Indonesia dipilih, salah satunya adalah karena keberagaman sosial dan budaya Indonesia serta jalinan pendidikan yang baik antara Jerman dan Indonesia. Kebudayaan yang semakin berkembang dan meranah ke bidang seni, sastra, musik, film, dan jurnalisme merupakan poin yang tercantum dalam bahasan mengenai pendidikan, social, dan budaya. Kemudian, Hoffman menerangkan bahwa Indonesia sebagai Guest of Honor pada Frankfurt Book Fair 2015 juga akan menjadi sorotan dunia di mana ribuan penikmat sastra dari seluruh dunia serta lebih dari 9000 jurnalis dunia akan meliput acara tersebut. Frankfurt Book Fair merupakan acara yang dapat memperkenalkan keindahan Indonesia ke mata dunia internasional.
Sesi berikutnya merupakan rentetan susastra Jerman dan Sastra local. Henry Simarmata menyampaikan penjelasan mengenai karya sastra Jerman yang dikemas dalam “12 Authors”. 12 Authors adalah cakupan dari karya dan penulis terpilih yang mewakili sastra prosa Jerman kontemporer. Rentetan acara berikutnya diisi oleh Ahman Tohari. Selaku tokoh sastra ternama Indonesia, Ahmad Tohari juga menyampaikan beberapa hal penting mengenai sastra Banyumasan, termasuk salah satu novel karyanya “Ronggeng Dukuh Paruk”.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga bertutur mengenai asal-muasal penulisan novel triloginya tersebut. Selain itu beliau berpesan kepada para hadirin untuk peduli terhadap orang-orang kecil dan tertindas, dengan mencintai mereka dan membantu mereka dengan menulis problema mereka, seperti yang telah beliau lakukan dalam mengungkap penderitaan dan penindasan terhadap rakyat Banyumas pada tahun 1965. Beliau juga berpesan kepada segenap warga Banyumas, untuk tidak minder (re: rendah diri) dalam bersosialisi dengan selain warga Banyumas, dan juga kepada para hadirin dan khalayak umum untuk tidak merendahkan orang Banyumas, khususnya dalam menggunakan bahasa Banyumasan yang dikenal istilah ngapak, yang mana merupakan warisan asli nenek moyang warga Banyumas. Senada dengan Ahmad Tohari, Margaretha Widhy Pratiwi menuturkan bahwa landasan karyanya yang berjudul “Kinanthi”merupakan budaya Jawa yang melekat dalam diri beliau. Beliau menjelaskan bahwa inspirasi dalam menciptakan karyan adalah kehidupan dalam keluarga. Margaretha Widhy Pratiwi juga mengigatkan jangan sampai sastra Jawa ditinggalkan dan terlupakan.
Selanjutnya, Dr. Yoseph Yapi Taum sebagai perwakilan Fakultas Sastra menyoroti tentang memori pasionis yang memudar di dalam karya sastra Indonesia. Menurut beliau, sastra Indonesia modern tidak menyinggung tragedi-tragedi besar yang pahit seperti tragedi 1965, 1998, maupun perang suku dan agama. Hal tersebut tak terefleksikan dalam karya sastra kini. Beliau menuturkan bahwa hanya ada 5 novelis dan 11 cerpenis yang menuangkan memori pasionis dalam karya mereka. Dr. Yoseph Yapi Taum menyinggung bagaimana hubungan masyarakat sastra Jerman secara tidak tabu menyeret tragedi kelam dalam sejarah Jerman untuk dibahas dalam karya sastra dengan harapan “the future of never again”. Poin terakhir, Dr. Yoseph Yapi Taum menyampaikan bahwa Fakultas Sastra USD mengembangkan cultural studies dan creative writing yang dapat dijadikan dorongan untuk merefleksikan tragedi gelap ke dalam karya sastra.
Sebelum menginjak ke sesi terkahir, acara tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab secara langsung dengan para tokoh tersebut yakni, Ahmad Tohari, Margaretha Widhy Pratiwi, Michael Hoffman, dan Dr. Yoseph Yapi Taum, yanga dimoderatori oleh Henry Simamarta. Selanjutnya acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut ditutup dengan ramah tamah oleh segenap hadirin di ruang Driyarkara. Diharapkan dengan hubungan kerjasama Jerman-Indonesia dalam bidang kesusastraan, hal ini dapat menumbuhkan sastrawan-sastrawan budaya Nusantara dan menambah referensi bagi sastrawan Indonesia. (AP & J)




