Pada saat membaca judul dari seminar yang diadakan, ada hal yang cukup menggelitik tentunya, cinta 17+. Apa itu yang dimaksud dengan cinta 17+? Tentunya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa 17 adalah umur yang menjadi patokan kedewasaan di Indonesia dan jika yang dimaksud 17 pada judul mengacu pada usia maka bisa diartikan secara harafiah bahwa cinta 17+ yang dimaksudkan dalam judul seminar itu adalah cinta bagi mereka yang sudah dewasa. Lalu ada kata kekerasan di sana, apakah maksudnya itu? Pemukulan, pacaran yang posesif, atau pacaran ala 17+ yang sering kita lihat di tayangan-tayangan dengan rating 17+? Apapun kemungkinannya, bisa anda lanjutkan sendiri, tapi yang pasti judul itu cukup menggelitik batin dan juga pikiran.
Saat seminar dilaksanakan, judul tersebut mampu menarik minat banyak sekali peserta. Seminar Ignasian ini bukanlah sesuatu yang baru, seminar ini selalu diadakan satu tahun sekali di USD dan bisa dibilang cukup berat karena dalam jalannya acara, akan ada pembicara yang menyampaikan refleksi Teologis yang tentunya berhubungan dengan spiritualitas Ignasian. Namun hal seperti di awang-awang tersebut sepertinya tidak mampu menyaingi tema yang sangat menarik ini, terbukti, dari seluruh peserta yang hadir, 80%-nya merupakan kaum muda dan peserta yang hadir kala itu mampu memenuhi ruang Koendjono di lantai 4 Gedung Pusat Kampus 2 USD pada Sabtu 20 Juli 2013 di mana seminar Ignasian tersebut diselenggarakan. Ada 3 pembicara yang hadir dalam seminar ini yang memiliki kapabilitas berbeda. Pembicara pertama adalah Dr. T. Priyo Widiyanto, M. Si. yang merupakan dosen Psikologi di USD. Pembicara kedua adalah ibu Endah Marianingsih Th., S. IP, M. Kes. seorang praktisi kesehatan yang tentunya sudah sangat berpengalaman, dan yang terakhir adalah Romo Mutiara Andalas, S. J.
Pak Priyo selaku dosen psikologi membawakan materinya yang berjudul Membongkar Kekerasan Cinta Dari ‘Karena’ Menuju ‘Meskipun’. Tidak hanya berhenti di ranah psikologi yang menjadi bidang keahliannya, beliau juga hadir di sana sebagai figur seorang suami yang family man. Untaian kisah beliau saat sedang PDKT dengan istrinya, masa-masa awal pernikahan beliau dan bagaimana cara beliau membesarkan putra putri beliau mampu diceritakan dengan menarik dan menyentuh. Lalu acara ini dilanjutkan dengan Ibu Endah yang hadir di sana untuk membawakan materinya yang berjudul Ketika Perjalanan Terlalu Jauh. Sebagai praktisi kesehatan, tentunya Bu Endah di sini lebih banyak memberikan paparan-paparan nyata tentang hubungan kasih orang muda yang nyata pada masa kini dan juga statistik mengenai bahaya-bahaya medis seputar hubungan seksual. Pada sesi ibu Endah ini, muncul sebuah pertanyaan yang menarik. Salah seorang peserta menanyakan definisi mengenai kata ‘jauh’ yang muncul dalam materi beliau. Pada saat seperti inilah beliau hadir sebagai pakar kesehatan dan juga seorang ibu. Jawaban beliau cukup mengejutkan kami karena beliau menyatakan bahwa limitasi dari jauh ini terus berkembang seiring perkembangan jaman. Jika dulu beliau berpesan pada putrinya agar pacaran maksimal ‘leher ke atas’, pada kesempatan berbeda saat beliau juga memberikan materi di salah satu kota besar di Indonesia, ada seorang ibu yang mengungkapkan bahwa saat ini wanti-wanti yang diberikan orang tua adalah ‘nak, pil-nya jangan sampai telat lho.’
Jadi orang dewasa menyenangkan, tapi susah dijalani. Think again. Ya, Romo Mutiara Andalas tampil sebagai pembicara terakhir dalam seminar ini dan beliau lebih sering memberikan pertanyaan-pertanyaan yang reflektif. Materi yang dibawakan beliau juga sangat menyentuh dunia kaum muda pada masa ini yaitu kekerasan cinta one click away karena perkembangan media dan teknologi saat ini. Dinamika pada saat seminar ini mampu tercipta dengan baik juga karena moderator seminar, Budi Setyahandana, S. T., M. T. mampu menyederhanakan kalimat yang mungkin cukup rumit bagi peserta dan juga kelakar yang dilontarkan beliau juga mampu mencairkan suasana saat seminar cukup menjenuhkan. Kehadiran Gigih Adiguna sebagai MC juga mampu untuk menciptakan suasana yang baik. Karena pada dasarnya Gigih ini adalah stand up comedian maka tidak susah bagi dia untuk membawa peserta masuk ke dalam tawa sebelum akhirnya kembali menerima materi.
Seminar ini diakhiri dengan santap siang bersama. Dalam kesempatan ini tidak hanya sekedar santap siang saja, namun terlihat banyak sekali diskusi-diskusi yang dilaksanakan para peserta mengenai seminar yang terlaksana. Pada akhirnya, hal yang masih menggantung adalah sebuah kenyataan bahwa sadar atau tidak sadar, kita semua pernah menjadi pelaku dan juga korban dari kekerasan cinta itu sendiri, entah secara fisik, verbal maupun psikis. Namun yang lebih penting, sudahkah kita mampu mengolah hal tersebut? (DAYC)




