Penyandang Cacat? Penyandang Disabilitas?

Penyandang Cacat? Penyandang Disabilitas?

Menurut kalian apakah sebutan yang layak bagi sosok pada gambar di atas? Apakah orang cacat? Ataukah orang dengan disabilitas/berkebutuhan khusus? Dan apakah kata ‘cacat’ adalah bagian dari disabilitas?

Di Indonesia, individu berkebutuhan khusus kerap disebut dengan istilah penyandang disabilitas. Disabilitas, menurut KBBI, diartikan sebagai keadaan (seperti sakit atau cedera) yang merusak atau membatasi kemampuan mental dan fisik seseorang. Namun disabilitas juga merupakan kata serapan bahasa Inggris, disability, yang berarti ketidakmampuan seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan cara yang biasa.

Diketahui melalui sumber lain yaitu Undang-Undang No. 19 Tahun 2011 tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas, penyandang disabilitas ialah orang yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam interaksi sosialnya menemui hambatan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak. Sedangkan dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dalam pokok pokok konvensi poin 1 (pertama) memberikan pemahaman bahwa disabilitas ditujukan kepada orang yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental yang dapat menganggu atau menghambat dirinya untuk melakukan kegiatan selayaknya, yang terdiri dari, penyandang cacat fisik; penyandang cacat mental; penyandang cacat fisik dan mental.

Nah, setelah mendapat gambaran tentang definisi penyandang disabilitas dan penyandang cacat, apakah kalian sudah menemukan perbedaan diantara keduanya?  Apakah mereka sama? Dan manakah yang lebih dianggap layak? Yuk simak kesimpulan berikut ini…

Julukan ‘penyandang cacat’ dianggap sebagai subyek hukum yang kurang diberdayakan. Penggunaan istilah ‘cacat’ kerap kali berkonotasi negatif. Julukan tersebut memberikan predikat negatif kepada seseorang, yaitu cacat pada keseluruhan pribadinya. Namun pada kenyataannya, bisa saja seseorang hanya mempunyai satu kekurangan fisik tertentu, sebagai contoh memiliki ketidakmampuan untuk melihat (buta) namun semua organ tubuh lain berfungsi sempurna. Oleh karenanya, penggunaan istilah ‘cacat’  diubah menjadi ‘disabilitas’ yang memiliki konotasi lebih baik.

Sumber :

  • Departemen Pendidikan Nasional. 2008 Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Ke empat. Jakarta: Gramedia.
  • Peraturan Daerah Provinsi Lampung. 2013. Nomor 10 “Pelayanan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas”.
  • Nur Kholis Reefani. 2013. Panduan Anak Berkebutuhan Khusus, hlm.17. Yogyakarta:Imperium.

Gambar :

  • https://www.google.com/search?q=tunadaksa&safe=strict&client=firefox-b-ab&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwigktyjkLLdAhULp48KHeCkB98Q_AUICigB&biw=1252&bih=565#imgdii=QIdskK2F02tT-M:&imgrc=H_ElV8qhAJDxlM:

(PSIBK, September 2018)

About the author

PSIBK USD administrator

Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Englighting and empowering people with special needs

You must be logged in to post a comment.