USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Lokakarya BenAR (Benedict Anderson Readers) II


Lokakarya BenAR (Benedict Anderson Readers) II
ANARKISME GLOBAL & IMAJINASI ANTIKOLONIAL 
Rabu-Kamis,  28-29 Agustus 2018

Lembaga Studi Realino - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Lokakarya BenAR II berikut ini adalah gerakan berkelanjutan dari Konferensi “Reviving Ben Anderson Imagined Cosmopolitan Communities” 16-17 Januari 2017.
Banyak salah kaprah mengenai kenyataan, gagasan dan kata “AN-ARKISME” dalam masyarakat dan kebudayaan global. Membaca secara cerdas buku Ben Anderson “Di Bawah Tiga Bendera: Anarkisme Global dan Imajinasi Antikolonial” (Marjin Kiri, 2015; diterjemahkan dari “Under Three Flags: Anarchism and The Anti-colonial Imagination”, Verso, 2005) akan memberi pandangan dan semangat baru bagi nasionalisme kosmopolitan. Anarkisme bukan sekadar terorisme, radikalisme, dan kekerasan atau kekejian berdasar diskriminasi atas kelas Sosial, Agama dan Ras 

* * *
Beberapa hal dan masalah menarik, penting dan mendesak dari globalisasi kata, gagasan, dan kenyataan anarkisme Tiga Bendera bisa dikaji ulang, misalnya:

  1. Tentang beragam nasionalisme yang sebanding dengan astronomi bintang-bintang, Ben menulis, “Tak ada yang menghubungkan bintang antar bintang ini selain gelap malam dan imajinasi. Keindahannya yang syahdu begitu mencekam sampai butuh tekad kuat untuk menyadarkan diri sendiri bahwa bintang bintang ini sesungguhnya bergerak kalap terus menerus, didorong kian kemari oleh kekuatan medan gravitasi tempat mereka menjadi bagian aktif yang tak terpisahkan (Marjin Kiri, hal. 1). Tepatkah imajinasi itu?
  2. Ben berharap para pembaca bukunya  “kena sihir dari gaung imajinasi anarkisme sastrawi tulisan pejuang revolusi nasionalisme  Filipina, Jose Rizal. Ben sempat membuat perbandingan tentang demo di kota New York ketika tahun 2004 berlangsung Konvensi pemilihan kandidat presiden dari Partai  Republik. Departemen Kepolisian New York menjelaskan kepada para  wartawan bahwa “ancamannya bukan berasal dari orang-orang komunis, bukan pula dari kaum fanatik Muslim, melainkan dari kalangan anarkis.” (Marjin Kiri, hal. 13). Mungkin dan benarkah penjelasan itu?
  3. Pada buku ber-bahasa (Marjin Kiri, hal. 252) ada ilustrasi foto hukuman mati Jose Rizal; dengan caption  “Pada subuh 30 Desember 1896, Rizal dibawa ke Bagumbayan (Taman Luneta) dan dieksekusi dari belakang oleh regu tembak.” Pada halaman berikutnya, Ben memberi “renungan” untuk para pembaca bukunya, “Rizal secara keliru menganggap diri sebagai guru politik bangsanya, tetapi kekuatannnya bukan berasal dari pidato atau artikel-artikel kritisnya  - yang bakal tak terlampau berbeda dari buah tangan kaum terpelajar Filipino lainnya - melainkan berasal dari novel-novelnya.” (Marjin Kiri, hal. 253). Betulkah renungan itu?
  4. Dari kesan beberapa sahabat, kolega dan muridnya, sebenarnya Ben tidak terang-terangan memberi arti tunggal tentang  “anarkisme.” Tetapi, satu hal yang cukup jelas yaitu: justru gagasan, komentar, pertanyaan dll. dari  Ben sendiri yang sering begitu jeli, “nakal,” liar, janggal, aneh, dll. yang bikin dia waspada, peka, dan jeli menangkap topeng kehadiran dari sebuah politik pemangkiran dan pengabaian terhadap kemanusiaan dan keadilan sosial.

* * *
Dalam konferensi “Reviving Ben Anderson” Januari 2017, muncul gagasan akan perlunya kegiatan dan gerakan membaca secara lintas ilmu untuk menangkap dan memperkembangkan gaung sejarah revolusi dan nasionalisme Indonesia.

LSR-USD mengusulkan tiga acara tentang bagaimana lokakarya BenAR II mendatang dapat berjalan baik:

  1. DISKUSI PANEL tiga pakar (politik, sastra, dan sejarah) yang sudah membaca secara mendalam – dengan tiga sisi gagasan/pandangan berlainan – tentang manfaat membaca buku Tiga Bendera. Ada moderator, hadirin sebagai pendengar.
  2. OPEN  TALK berdasar buku Tiga Bendera, ada moderator. Perbincangan tentang hal dan masalah globalisasi anarkisme dalam konteks anti-kolonialisme Filipina – khususnya melalui novel-novel Jose Rizal – mungkin baik dan berguna untuk demokratisasi masyarakat Indonesia dan/atau Thailand. Betulkah dan bagaimana mungkin bahwa selama ini negara-negara Asia Tenggara – yang melahirkan Jose Rizal dkk. di Filipina – semakin condong ke politik seperti di Amerika Serikat akhir-akhir ini.
  3. PEMBICARA KUNCI diundang dalam BenAR II, untuk mengungkap jejak-langkah atau sejarah aksi dan gerakan “an-arkisme” Indonesia yang mampu menyebar nasional, kosmopolitan dan global. Gagasan dan aksi anarkisme dalam masyarakat plural yang tanpa membawa intoleransi, menopang proses demokratisasi dan menegakkan keadilan yang tak perlu dikait(kait)kan dengan diskriminasi SARA (kelas Sosial, Agama dan RAs).                                   
    Acara ini gratis dan terbuka untuk partisipasi hadirin dengan syarat yang bersangkutan telah mengirimkan komentar terkait kelebihan/keterbatasan – satu halaman saja – gagasan Ben dalam buku Tiga Bendera. Keterangan lebih lanjut dan pendaftaran peserta lokakarya BenAR II silakan kontak di:
Email                  : realino@mail.usd.ac.id
WhatsApp           : +62-857-28018254
     

  kembali