Universitas Sanata Dharma : www.usd.ac.id

Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat

Loading
HOMEPROFILEPENELITIANPENGABDIANPUSATPUBLIKASI USDBERITAKONTAK

  Publikasi USD

JURNAL  ●
PENERBITAN  ●
BULETIN  ●
 

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI PEMBELAJARAN SEJARAH BERBASIS KONSTRUKTIVISME

>> oleh :
Drs. Yohanes Rasul Subakti, M.Pd
Halaman : 1-2
 

Abstract

Karakter bangsa semakin dieprtanyakan eksistensinya karena semakin tidak jelas. Berbagai saluran dalam upaya pembentukan karakter bangsa semakin tidak berfungsi. Sebenarnya, saluran pembentukan karakter bangsa adalah melalui pendidikan. Salah satu dari materi sebagai pembentukan karakter bangsa adalah mata pelajaran sejarah.

Namun, pembelajaran sejarah saat ini menghadapi banyak persoalan, yaitu lemahnya penggunaan teori, miskinnya imajinasi, acuan buku teks, dan kurikulum yang state oriented serta kecenderungan untuk tidak memperhatikan fenomena globalisasi berikut latar belakang historisnya. Juga, pembelajaran sejarah miskin teori. Akibat dari semua itu, pembelajaran sejarah tidak menarik, membosankan. Ditambah lagi model pembalajaran sejarah yang masih konvensional. Seharusnya pembelajaran sejarah harus hidup dan menarik.

Agar pembelajaran sejarah berhasilbaik, metode yang dipergunakan harus bisa mengkonstruk "ingatan historis" dan didukung oleh "ingatan emosional". Ingatan jenis ini adalah ingatan yang terbentuk dengan melibatkan emosi hingga bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa untuk menggali lebih jauh dan memaknai berbagai peristiwa sejarah. Untuk itulah, perlu perubahan model pembelajaran sejarah, dari konvemsional ke pembelajaran yang konstruktivis.

Teori belajar kontruktixisme menyatakan bahwa siswa harus membangun pengetahuan di dalambenak mereka sendiri. Konsep-konsep mendasarnya adalah dengan scaffolding, proses top down, Zone of Proximal Development (ZPD), dan pembelajaran kooperatif. Tujuannya adalah membangun pemahaman tentang pemberian makna apa yang dipelajari.

Pendekatan pembelajaran sejarah dengan menggunakan konstruktivisme ada beberapa model, antara lain pembelajaran sejarah berdasarkan maslah, pembelajaran interaktif, dan masih banyak lagi model-model pembelajaran lainnya yang mempu mendorong siswa untuk berkreasi dan mengkonstruksi pengetahuannya sampai pada tataran internalisasi dalam dirinya. Dengan demikian pembelajaran ini bukan hanya sekedar transfered kowledge, tetapi memang merangsang siswa untuk nantinya mampu berpikir secara rasional dan bukan mendasarkandiri pada sisi hafalan belaka.


References

 
 
Kirim eMail ke penulis :
 
Nama  :
eMail  :
Isi  :

1M566L

Karakter Acak :
 
© 2019 - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami   |  1 user(s) online