Universitas Sanata Dharma

Fakultas Sastra

Loading
HomeProfileBeritaAgendaFasilitasKontakPengumuman

BERITA KEGIATAN

Memahami Novel Sejarah dan Bedanya dengan Teks Sejarah
Sastra Indonesia | 01 June 2021
Memahami Novel Sejarah dan Bedanya dengan Teks Sejarah :: Fakultas Sastra USD Yogyakarta

Pengertian Novel Sejarah

Novel sejarah dapat dikategorikan sebagai novel ulang (rekon). Sebelum mengetahui pengertian tentang novel sejarah, kita harus memahami  tentang jenis-jenis novel ulang (rekon).

Berdasarkan jenisnya, novel ulang terdiri dari tiga jenis, yaitu rekon pribadi, rekon faktual, dan rekon imajinatif. Rekon pribadi adalah novel yang  memuat kejadian dan penulisnya terlibat secara langsung. Rekon faktual (informasional) adalah novel yang memuat kejadian faktual seperti eksperimen ilmiah, laporan polisi, dll. Sementara, rekon imajinatif adalah novel yang memuat kisah faktual yang dikhayalkan dan diceritakan secara lebih rinci.

Novel sejarah adalah jenis novel yang termasuk ke dalam rekon imajinatif. Jadi, novel sejarah merupakan  novel yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah yang kemudian dikisahkan kembali dengan sudut pandang lain yang tidak muncul dalam fakta sejarah.

Misalnya, kegemaran, emosi, dan keluarga. Dalam membaca novel sejarah, para pembaca harus mampu mengamati dan menemukan tokoh sejarah yang diceritakan, karakter yang digambarkan, dan kejadian di dalamnya.

 

Struktur Novel Sejarah

Novel sejarah yang ditulis dalam bentuk teks rekon imajinatif tersusun dari beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut antara lain:

  1. Pengenalan situasi cerita (exposition, orientasi)

Pada bagian ini, pengarang memperkenalkan latar cerita baik waktu, tempat, dan peristiwa. Selain itu, orientasi dapat disajikan dengan mengenalkan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh di dalam cerita.

  1. Pengungkapan peristiwa

Bagian ini menyajikan peristiwa awal yang selanjutnya dapat menimbulkan berbagai masalah, pertentangan, atau kesukaran-kesukaran yang dialami oleh para tokohnya.

  1. Menuju konflik (rising action)

Pada bagian ini terjadi peningkatan perhatian kegembiraan, kehebohan, maupun keterlibatan berbagai situasi yang menyebabkan bertambahnya kesukaran tokoh.

  1. Puncak konflik (turning point, komplikasi)

Bagian ini yang disebut juga sebagai klimaks. Ini merupakan bagian cerita yang paling besar dan mendebarkan. Pada bagian ini juga ditentukan perubahan nasib beberapa tokohnya. Misalnya, dia berhasil menyelesaikan masalahnya atau tidak.

  1. Penyelesaian (evaluasi, resolusi)

Sebagai akhir cerita, pada bagian ini berisi penjelasan ataupun penilaian tentang  sikap maupun nasib-nasib yang dialami tokohnya setelah mengalami peristiwa puncak itu. Pada bagian ini pun sering pula dinyatakan wujud akhir dari kondisi ataupun nasib akhir yang dialami tokoh utama.

  1. Koda

Bagian ini berupa komentar terhadap keseluruhan isi cerita yang fungsinya sebagai penutup. Komentar tersebut dapat disampaikan secara langsung oleh pengarang atau diwakilkan oleh seorang tokoh. Tidak semua novel memiliki koda, bahkan novel-novel modern lebih banyak menyerahkan kesimpulan akhirnya kepada pembaca agar menebaknya sendiri.

 

Perbedaan Novel Sejarah dengan Teks Sejarah

Perlu kita ketahui bahwa novel sejarah berbeda dengan teks sejarah. Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa novel sejarah adalah novel yang didasarkan pada fakta-fakta sejarah, tetapi cerita di dalamnya menggambarkan sesuatu yang tidak pernah ada atau terjadi.

Dengan kata lain, cerita di dalam novel sejarah adalah cerita rekaan yang dikembangkan dari fakta sejarah yang pernah ada. Hal itu berbeda dengan teks sejarah yang dituntut harus sesuai dengan hal-hal yang memang pernah ada atau terjadi.

Berdasarkan penulisnya, novel sejarah ditulis oleh seorang novelis, sementara, teks sejarah ditulis oleh sejarawan. Seorang novelis sepenuhnya bebas untuk menciptakan dengan imajinasinya mengenai apa, kapan, siapa, dan di mana cerita dalam novel sejarah. Sebaliknya, sejarawan terikat oleh keharusan menulis sesuatu yang benar terjadi di masa lampau, tidak boleh ditambah-tambahkan atau direkayasa.

Dalam novel sejarah, faktor perekayasaan dari pengarang yang mewujudkan cerita sebagai suatu kebulatan atau koherensi dan sekali-kali ada relevansinya dengan situasi sejarah. Sementara itu, pada teks sejarah, hubungan antara satu fakta dengan yang lainnya perlu direkonstruksi.  Paling tidak hubungan topografis atau kronologisnya.

Sejarawan perlu menunjukan sesuatu yang ada saat ini dapat dilacak eksistensinya di masa lampau. Hal tersebut berguna sebagai bukti atau saksi dari apa yang direkonstruksi mengenai kejadian di masa lampau.

Sejarawan yang menulis teks sejarah juga sangat terikat pada fakta tentang apa, siapa, kapan, dan di mana tentang sejarah itu. Berbeda dengan novelis atau pengarang novel yang tidak terikat pada fakta-fakta sejarah mengenai apa, siapa, kapan, dan di mana. Semua yang ia tulis dalam novel sejarah dapat berupa fiksi tanpa ada kaitannya dengan fakta-fakta sejarah. Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam novel sejarah, tidak diperlukan adanya bukti, berkas, atau saksi.

Pelaku-pelaku, hubungan di antara mereka, kondisi dan situasi hidup, serta masyarakatnya di dalam teks sejarah harus sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Tidak boleh ada rekayasa di dalam teks sejarah. Di sisi lain, dalam novel sejarah, pelaku-pelaku, hubungan di antara mereka, kondisi dan situasi hidup serta masyarakatnya semuanya merupakan hasil imajinasi.

 

Contoh-contoh Novel Sejarah

Contoh novel sejarah yang ada di Indonesia antara lain,  Roro Mendut karya Mangunwijaya dan karya Ajip Rosidi; Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, Arus Balik, Mangir karya Pramoedya Ananta Toer; Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan K.H. yang mengisahkan kehidupan Soekarno saat menjalin rumah tangga dengan Inggit Garnasih, Kemelut Majapahit karyaSH. Mintarja. Ada pula novel dari luar negeri, misalnya The da Vinci Code karya Dan Brown.

Masih terdapat beberapa novel sejarah lain karya novelis atau sastrawan Indonesia. Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma sendiri memiliki mata kuliah yang mempelajari tentang prosa khususnya novel-novel di Indonesia. Tentunya hal ini menjadi kesempatan bagi siapa saja yang  berminat untuk mengetahui dan mempelajari lebih lagi tentang karya sastra yang berupa novel sejarah di bangku perkuliahan nantinya.

 

Referensi

Suryaman, Maman, dkk. 2018. Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas XII Edisi Revisi. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Suryaman, Maman, dkk. 2018. Bahasa Indonesia Kelas XII Edisi Revisi. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

 

Penulis: Stevanny Yosicha Putri

lihat berita Sastra Indonesia lainnya>>
hal. 1  ...  2  3  4  5  6  ... 15
 
© 2021 - Fakultas Sastra - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami