Universitas Sanata Dharma

Fakultas Sastra

Loading
HomeProfileBeritaAgendaFasilitasKontakPengumuman

BERITA KEGIATAN

Heboh Mengenai Buku Bajakan dan Usulan Menanganinya
Sastra Indonesia | 27 May 2021
Heboh Mengenai Buku Bajakan dan Usulan Menanganinya :: Fakultas Sastra USD Yogyakarta

Ternyata, Tere Liye menyinggung soal pembajakan buku yang masih marak terjadi di Indonesia. Buku-buku yang ditulisnya juga tidak luput menjadi sasaran oknum pembajak buku.

 

Ramai di Medsos

Karena buku-bukunya selalu dibajak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, maka hal yang lumrah bila Tere Liye mencurahkan rasa frustasinya ke akun media sosialnya.

“Keluarga kamu kalau kerja HARUS dapat gaji, dapat THR, dapat bonus. Tidak dibayar, kamu dijamin ngamuk. Tapi lihat penulis buku dibajak, kamu komen sok bijak sekali: 'anggap saja amal'. Dasar goblok, kezaliman massal dilakukan di depanmu, kamu sok bijak. Agama-mu ngajarin apa saat melihat perampok? Atau kamu bagian dari perampok ini?” tulis Tere Liye di akun Facebook-nya seperti dilansir dari Kompas.com.

Kiriman tersebut langsung menjadi pembicaraan warganet. Awalnya hal tersebut ramai di Facebook, kemudian berpindah di Twitter setelah akun @HarisFQ turut memberikan komentar.

“Masalahnya, Bung Tere, audiens buku anda itu mayoritas anak smp dan sma yang belom engeuh sama isu pembajakan buku. Baik itu buku fisik maupun ebook. Sekarang mereka yg polos itu anda dungu dan goblokkan, makin nampaklah arogansi anda Bung Tere,” tulis akun @HarisFQ.

Kiriman @HarisFQ ini juga menuai pro dan kontra dari warganet. Ada yang pro terhadap Tere Liye, tetapi ada juga yang pro terhadap akun @HarisFQ. Ada juga warganet yang menyayangkan ucapan dari Tere Liye.

"Tere Liye bisa menemukan kata-kata yang lebih baik. Tapi twit ini mengganti prioritas masalahnya, menunjuk pada masalah yang kurang penting," tulis akun @hasssnnnaaa.

"Gue kalau jadi Tere Liye juga bakal marah kayak gitu sih, biar ketampar semua orang yang beli buku bajakan, kalau bisa sampai proses hukum yang jual ecommerce," tulis @indisguiseside.
"Kata-katanya emang kasar, tapi menurutku Tere Liye udah marah banget dengan pembajakan buku. Kok semuanya pada fokus ke kata kasar dibandingkan orang-orang yang menormalisasi pembajakan buku??" tulis @merumput_.

"Temenku yang udah kuliah aja ada yang belum bisa bedain buku bajakan, tapi kata-kata Tere Liye ini terlalu kasar sih," tulis @sshimmeringg.

 

Penanganan Pembajakan Buku

Lantas, apa yang seharusnya menjadi fokus utama untuk masalah tersebut? Dilihat dari tujuan Tere Liye mencurahkan rasa kesalnya terhadap pembajakan buku yang kian banyak, tentu masalah pembajakan buku menjadi hal yang harus difokuskan daripada cara Tere Liye mengungkapkan kekesalannya.

Setiap tahunnya pembajakan buku baik dalam bentuk fisik atau dalam bentuk PDF selalu terjadi. Di tahun 2020 media sosial sempat ramai dengan berbagai tautan buku yang beredar secara ilegal. Hal tersebut disebabkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang melakukan aksi tersebut dengan dalih kebaikan untuk media belajar dan sebagai kegiatan mengisi waktu luang selama lockdown saat awal pandemi Covid-19. Tentu aksi tersebut mendapat reaksi kontra dari para penulis dan penerbit.

Dari sini sudah jelas bahwa isu pembajakan buku bukan hal yang sederhana. Pembajakan buku adalah hal yang bersifat merugikan banyak pihak. Pihak yang paling dirugikan tentunya para penulis dan penerbit. Jika pembajakan buku marak terjadi maka penulis dan penerbit tidak mendapat penghasilan. Selain itu para penulis juga mengalami kesulitan dalam membayar pajak royalti buku.

Salah satu cara agar pembajakan buku tidak terus terjadi (selain dengan memberikan sanksi hukum kepada pelaku) adalah dengan membudayakan apresiasi seni dan kampanye untuk menghentikan laju penambahan buku bajakan.

Apresiasi seni yang baik adalah dengan membeli buku yang original beredar di toko buku. Harga buku yang asli tentu lebih mahal daripada buku bajakan, karena terdapat berbagai biaya produksi, biaya promosi buku, biaya editor, pajak PPh, royalti penulis, dan tentunya biaya berpikir untuk inspirasi menulis seperti yang dijelaskan Tere Liye di Facebook-nya.

Terlepas dari cara ngegas Tere Liye yang menjelaskan bahwa pembajakan buku adalah perbuatan yang salah, masyarakat Indonesia harus memiliki upaya (effort)yang lebih dalam menghargai buku dengan berusaha membeli buku yang asli.

Dengan semakin banyak masyarakat yang membeli buku original, maka para penulis akan semakin bersemangat dalam membagikan ilmu dan cerita inspiratif mereka. Budayakan apresiasi buku, dan setop pembajakan buku!

 

Sumber:

Puspita Sari, Rintan. 2021. “Ternyata Ini Sebab Tere Liye Mendadak Heboh Hingga Trending di Twitter”, https://www.kompas.com/hype/read/2021/05/25/113504666/ternyata-ini-sebab-tere-liye-mendadak-heboh-hingga-trending-twitter, diakses pada 25 Mei pukul 20.00.

Wilna, Ma’arifatus. 2020. “Pembajakan Buku PDF di tengah Pandemi COVID-19”, http://www.mediacenterpknstan.com/2020/05/pembajakan-buku-pdf-di-tengah-pandemi.html, diakses pada 25 Mei 2020 pukul 22.00.

 

Penulis: Marcella Tiara

lihat berita Sastra Indonesia lainnya>>
hal. 1  2  3  4  5  ...  15
 
© 2021 - Fakultas Sastra - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami