Universitas Sanata Dharma

Fakultas Sastra

Loading
HomeProfileBeritaAgendaFasilitasKontakPengumuman

BERITA KEGIATAN

Talkshow Publik “Memelihara Bumi di Tengah Tekanan Arus Modal”
Sejarah | 01 April 2019
Talkshow Publik “Memelihara Bumi di Tengah Tekanan Arus Modal” :: Fakultas Sastra USD Yogyakarta

PUSDEMA bekerjasama dengan Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan acara Talkshow publik yang bertema “Memelihara Bumi di Tengah Tekanan Arus Modal” pada Jumat 22 Maret 2019. Pembicara Talkshow public ini adalah Bapak Gunretno dari Sedulur Sikep dan Bapak Silverio Aji Dosen Sejarah USD. Sedulur Sikep dipilih karena keaktivannya dalam memperjuangkan kelestarian alam di daerah Pegunungan Kendeng yang kaya akan kapur dan menjadi lahan incaran pendirian pabrik-pabrik semen. Sedulur sikep sendiri adalah orang-orang yang masih mempertahankan cara hidup dari Samin Surosentiko sosok yang aktif mempertahankan kelestarian alam dari jaman Belanda yang akhirnya harus di asingkan ke daerah Padang dan meninggal dalam pengasingannya. Sedulur Sikep sendiri sering dikenal dengan istilah suku atau orang Samin yang tinggal di Blora dan Pati. Banyak hal teladan yang bisa dicontoh dari Sedulur Sikep selain usaha-usaha dalam melestarikan alam, yaitu prinsip hidup mereka untuk bersikap “lurus” dalam artian mereka hidup dalam ajaran yang jauh dari sikap keduniawian.

            Bapak Gunretno dan kawan-kawannya memperjuangkan kelestarian alam Pegunungan Kendeng tidak hanya sekedar omongan belaka. Terbukti dari didengarkannya aspirasi oleh pihak Kementrian Lingkungan Hidup, diundang langsung oleh Bapak Presiden Jokowi untuk membahas jalan keluar terbaik bagi permasalahan pabrik semen dan dampak buruk yang ditimbulkan. Perjuangan Sedulur Sikep menjadi kritikan bagi pemerintah agar lebih memperhatikan dampak akhir yang ditimbulkan dari pembukaan pabrik yang lebih membahayakan daripada sekedar urusan ekonomi. Sedulur sikep selalu memilih cara damai untuk menyuarakan aspirasi, mereka menjauhi cara kekerasan. Yang mereka lindungi bukan hanya sekedar pegunungan kapur yang dinilai tidak mampu dijadikan pemukiman, sebaliknya mereka berpikir bahwa pegunungan kapur adalah salah satu penyerap karbonmonoksida terbaik selain pohon, pegunungan kapur juga mampu menjadi cadangan penyimpan air guna mengaliri sawah pertanian warga dan untuk hidup rumahtangga. “Bukan hanya terancamnya Pegunungan Kendeng tetapi bisa jadi Pulau Jawa ikut hancur” ujar Gunretno dalam Talkshow Publik. Ia mengusahakan kelestarian alam bukan hanya untuk kaumnya saja melainkan untuk kepentingan bersama agar anak-cucu nantinya dimasa depan masih sempat menikmati hasil dari alam, bukan sisa-sisa dari eksploitasi yang berujung bencana.

            Pada sesi kedua pembicara Bapak Silverio mengutarakan hal yang senada dengan Gunretno. Pak Rio yang aktif pula dalam research dilapangan memandang bahwa orang Samin itu hanya mempertahankan ajaran Jawa yang hidup apa adanya dan berusaha memelihara alam. Perjuangan mereka semakin hari semakin berat karena yang mereka lawan adalah pemerintah dan para pemegang saham. Dengan keterbatasan pendidikan dan keterbatasan pengikut, orang Samin tetap maju melawan para petinggi yang menghendaki pembukaan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

            Perjuangan Sedulur Sikep harusnya bisa menjadi contoh bagi kita yang masih terbuai dalam indahnya janji kaum kapitalis. Hidup bukan hanya sekedar mengumpulkan harta, namun bagaimana cara kita memelihara alam supaya kehidupan kita dimasa mendatang menjadi lebih baik karena hidup manusia tergantung dengan hasil alam. Semangat untuk terus menjaga bumi jangan sampai hanya perjuangan kaum Sedulur Sikep saja.

“Kecintaan kita terhadap Indonesia akan kita wujudkan seperti apa?”- Gunretno,

 

 

 

lihat berita Sejarah lainnya>>
hal. 1  2  3  4  5  ...  12
 
© 2019 - Fakultas Sastra - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami