Pendidikan Sejarah

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Universitas Sanata Dharma

BERITA

Seminar Mahasiswa : Pembelajaran Sejarah Pada Abad 21
28 June 2021

Pada tanggal 1 September 2018, Program Studi Pendidikan Sejarah mengadakan Seminar Mahasiswa dengan judul “Pembelajaran Sejarah Pada Abad 21”. Seminar ini terbagi menjadi 2 sesi, yaitu sesi “Literasi Dalam Pembelajaran Sejarah” yang diisi oleh Ropita Dewi Sartika dan “Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Sejarah” yang diisi oleh Eben Haezer Gulo. 

Literasi Dalam Pembelajaran Sejarah

Dalam sesi, dijelaskan bahwa Gerakan Literasi Sekolah sendiri merupakan langkah pemerintah untuk megatasi rendahnya minat baca peserta didik. Bagi seorang guru, sebelum melakukan proses pembelajaran sejarah dengan gerakan literasi, seorang guru harus menyiapkan RPP, Power Point, bahan diskusi, cuplikan video, soal tes.

Untuk metode pembelajaran, guru dapat menggunakan metode ceramah, tanya jawab, diskusi, penugasan. RPP yang dibuat guru harus meliputi pendahuluan, kegiatan inti, penutup. Alokasi waktu untuk pendahuluan adalah 10 menit, untuk kegiatan inti sendiri waktunya 70 menit yang berisi tentang materi pembelajaran dan penutup dengan waktu 10 menit.

Bagi peserta didik sendiri, pembelajaran sejarah dengan literasi membuat proses belajar mengajar menjadi menarik. Secara tidak langsung juga dapat mengembangkan keterampilan membaca, menyimak,  menulis, berbicara  serta  aspek  kognitif,  afektif,  dan psikomotorik peserta didik.

Media Audio Visual Dalam Pembelajaran Sejarah

Dalam sesi, dijabarkan sebelum melakukan pembelajaran dengan media audio visual, seorang guru harus menyiapkan RPP, media pembelajaran, dan alat evaluasi. Penyusunan RPP sendiri harus memperhatikan Kompetensi Dasar, kemudian KD dijabarkan dalam bentuk indikator, tujuan serta materi pembelajaran.

Tahap selanjutnya adalah menentukan pendekatan, model dan metode yang digunakan. Selanjutnya merumuskan kegiatan pembelajaran, yang terdiri dari kegiatan pendahuluan (apersepsi), inti (media audio visual), dan penutup. Untuk alat evaluasi, guru harus menyiapkan tes aspek kognitif dan afektif.

Baik dengan gerakan literasi maupun media audio visual, pembelajaran sejarah yang sebelumnya bisa dikatakan “membosankan” akan menjadi sedikit berwarna. Tinggal seorang guru itu sendiri yang berkretivitas dalam proses belajar mengajar sendiri, agar dapat memberikan warna tersendiri pada metode gerakan literasi maupun audio-visual.

Dengan bangga, pada 1 September 2018 Mahasiswa Pendidikan Sejarah Angkatan 2015 beserta Progam Studi Pendidikan Sejarah meluncurkan buku Mosaik Afrika : Kapita Selekta Afrika Dalam Sejarah. Peluncuran buku ini sendiri disertai dengan bincang buku tentang salah 2 sub bab dalam buku ini, yaitu “Mitos Dan Tradisi Di Afrika” yang dibawakan oleh Yulia Monika dan “Politik Dan Militer Di Afrika” yang dibawakan oleh Bagas Prihandono.

Mitos Dan Tradisi Di Afrika

Dalam bincang buku ini, dijelaskan bahwa masyarakat Afrika pada zaman dahulu memiliki kepercayaan Polytheis atau percaya dan menyembah banyak Dewa. Setelah agama modern masuk ke Afrika, mitos-mitos yang berkembang tidak begitu saja hilang, bahkan mitos- mitos tersebut ikut mempengaruhi agama modern disana, seperti mitos gereja Lalibela dan jejak-jejak tabut perjanjian di Afrika.

Meskipun agama modern sudah masuk ke Afrika, masih saja ada masyarakat Afrika yang menjalankan beberapa tradisi seperti Voodoo di Benin (mengorbankan ular disertai doa, nyayi-nyanyian, tari-tarian), Trance Dance oleh suku Bushmen (tarian untuk menyembuhkan orang sakit), Balance oleh suku Hottentot (kesetaraan gender, tradisi merokok pada saat pesta), Mingi di Duss (membunuh bayi yang lahir tidak normal), Tradisi Khitan bagi Perempuan.

Untuk mengatasi tradisi-tradisi yang buruk itu, diperlukan pendidikan untuk memberi pengetahuan bagi mereka bahwa tradisi- tradisi yang ada itu akan berbahaya bagi kesehatan dan melanggar Hak Asasi seseorang. Seperti kisah Lale Labuko yang berhasil membuat pemerintah setempat melarang tradisi Mingi, oleh karena usahanya menceritakan tradisi ini ke seluruh dunia.

Politik dan Militer di Afrika.

Telah  dijabarkan  dalam  bincang  buku  ini,  SDA dan  Perang Dingin yang berkecamuk membuat Benua Afrika sering dilanda konflik, seperti yang terjadi di negara Nigeria (Nigeria dengan Biafra) dan Sierra Lione (Joseph Saidu Momoh dengan Kopral Foday Sankoh), yang dimana kedua negara tersebut dilanda konflik perang saudara yang berkepanjangan.

Kita beralih ke Angola, dimana ada 3 kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan, yaitu MPLA dengan dukungan Uni Soviet dan FNLA UNITA dengan dukungan Amerika Serikat. 

Lama-kelamaan terjadi perang saudara diantara ketiganya, yang mana dua negara “Super power” memanfaatkannya untuk menyebarkan pengaruh di Angola, puncaknya saat Kuba terjun langsung ke Angola untuk membantu MPLA.

Benua Afrika dibalik keindahan alam dan kekayaan SDAnya, ternyata benua Afrika menyimpan sejarah yang panjang dan kelam, namun sedikit demi sedikit benua Afrika mulai berbenah, pendidikanlah salah satu cara untuk merubah Afrika ke arah yang baik.

Nugroho Dwi Putro




hal. 1  2  
Kampus I Universitas Sanata Dharma, Jl. Afandi Gejayan, Mrican Yogyakarta 55002

Telp: 0274-513301, 515352

Fax: 0274-562383

Email: fkip@usd.ac.id

© 2021 - Pendidikan Sejarah - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta   |  Kontak Kami

35 user(s) online