Loading

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sanata Dharma

BERITA KEGIATAN

SEMINAR NASIONAL
Ilmu Pendidikan Agama Katolik | 18 September 2017
SEMINAR NASIONAL  :: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD Yogyakarta

Sebagai rangkaian terakhir dalam rangka Musyawarah Nasional (Munas) Perkumpulan Pendidikan Keagamaan Katolik Indonesia (Perdikkati), Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional Kateketik dengan mengusung tema “Kaum Muda dan Hidup Menggereja.” Seminar Nasional Kateketik yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 16 September 2017 dihadiri oleh perwakilan dari segenap anggota Perdikkati, guru agama, katekis, mahasiswa, dan para pemerhati OMK. Seminar ini dibuka oleh Rektor Universitas Sanata Dharma, Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa “intensitas kaum muda dalam kehidupan menggereja semakin menurun, hal ini saya dapati saat kegiatan di Gereja maupun di lingkungan, jarang sekali ada orang muda yang terlibat”.

Berbicara mengenai kaum muda dalam kehidupan menggereja bukanlah topik yang baru lagi. Tema ini selalu menarik perhatian untuk didiskusikan. Seminar yang dimulai pada pukul 08.00 dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama para peserta diajak untuk mengupayakan “Pendampingan OMK menuju karakter Katolik” oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. Romo Dwi Harsanto pernah bertugas di Komisi Kepemudaan KWI (2008-2015) dan menjadi ketua steering committee (SC) dalam event Asian Youth Day (AYD) bulan Agustus yang lalu. Pada sesi ini dimoderatori oleh Romo P. Mutiara Andalas,SJ. Peserta sangat antusias mengikuti sesi ini, hal tersebut terlihat pada sesi tanya jawab. Dalam sesi tanya jawab ini terjadi diskusi yang sangat menarik. Romo juga memaparkan metode pendekatan yang pernah dilakukannya selama mendampingi kaum muda.“Salah satu metode yang dapat merangkul orang muda adalah dengan mengubah paradigma kita, dengan memposisikan orang muda adalah Gereja” Demikian yang disampaikan oleh beliau, untuk mempertegas diskusi.

Pembicara pada sesi kedua adalah perwakilan dari masing-masing Perdikkati:1) Dr. Liria Tjahaja, M.Si. dari Prodi Pendikkat UAJ Jakarta, 2) Antonius Virdei Eresto Gaudiawan, M.Hum. dosen di STKIP Widya Yuwana Madiun, 3) Dr. Marsel Ruben Payong, M.Pd. dari STKIP Santo Paulus Ruteng, dan 4) FX. Dapiyanta, SFK., M.Pd. dari Prodi Pendikkat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Pembicara pertama, Ibu Liria memaparkan pengalamannya dalam mendampingi orang muda di Jakarta. Beliau mengadakan penelitian bersama mahasiswanya, apakah orang muda sudah mengenal ASG (Ajaran Sosial Gereja). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya orang muda yang pernah mengenyam pendidikan di seminari atau sekolah di bidang keagaam saja yang mengenal ASG. Beliau prihatin dengan keadaan tersebut. Akhirnya beliau menggunakan metode yang sangat menarik untuk masuk dalam dunia orang muda dan mulai mengenalkan ASG. Pendampingan yang berbuah manis, sebagian besar orang muda sudah mulai menerapkan salah satu dokumen ASG dalam kehidupan sehari-harinya. “ternyata belajar ASG itu menarik, belajar agama yang sesungguhnya adalah di luar sekolah dengan mengadakan berbagai aksi positif” katanya sambil menirukan salah satu respondennya. 

 Pembicara kedua Antonius Videi Eresto Gaudiawan memaparkan mengenai “mahasiswa urban”. Latar belakang beliau membuat riset ini adalah minimnya mahasiswa pendatang yang terlibat aktif dalam hidup menggereja. Penelitian ini dilakukan di Surabaya, Malang, Solo dan Yogyakarta dengan beberapa ketentuan. Dari hasil penelitiannya diketahui beberapa alasan para mahasiswa tidak aktif dalam kegiatan menggereja. Ada yang terlalu sibuk dengan tugas kuliah, malu untuk bergabung, tidak ada teman yang mengajak dan merasa tidak “dikaruhke” oleh ketua lingkungan setempat. Selanjutnya Marselus Ruben mengajak peserta untuk memahami pergumulan orang muda dalam kehidupan menggereja masa kini. “orang muda itu tidak bisa terlalu dikekang dan juga terlalu dibebaskan” tegasnya. Orang muda identik dengan freedom atau kebebasan. Pembicara terakhir adalah FX. Dapiyanta, SFK., M.Pd. dari Pendikkat USD. Beliau memparkan hasil analisisnya yang dilakukan di prodi Pendidikan Agama Katolik, Pendidikan Akuntasi, dan Farmasi. Melalui analisis tersebut diketahui bahwa  secara signifikan memiliki penguasaan pemahaman yang berbeda-beda. 

Kehadiran para pembicara yang sudah ahli dalam bidangnya masing-masing semakin membuka wawasan para peserta seminar. Tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk menemukan metode yang tepat guna merangkul kaum muda supaya terlibat dalam kehidupan menggereja. Hasil seminar ini tentunya akan menjadi PR bagi kita semua khususnya bagi para pegiat pendampingan orang muda, maupun lembaga yang berkecimpung dalam pengembangan pendidikan agama Katolik. Kegiatan seminar yang diikuti oleh kurang lebih 300 peserta, berlangsung dengan penuh antusias dan keterbukaan. “Semoga orang muda semakin tergerak hatinya untuk terlibat akftif dalam hidup menggereja dan menyadari tugas dan tangung jawabnya sebagai anggota Gereja” demikian harapan Ketua pendikkat Dr. B.A. Rukiyanto, SJ. (EDS-YK).

lihat berita Ilmu Pendidikan Agama Katolik lainnya>>
hal. 1  2  3  4  5  ...  54
 
© 2017 - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami  | 2 user(s) online