S3 Program Doktor Kajian Budaya
(Kajian Seni dan Masyarakat)

Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma

BERITA

Semiloka Terbatas "Otentisitas/Hibriditas"
19 February 2020
Semiloka Terbatas "Otentisitas/Hibriditas"  :: S3 Program Doktor Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat)

Apa itu hibriditas? Apa itu otentisitas? Apakah masih ada suatu hal yang bisa kita sebut sebagai otentis saat ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang coba dijawab oleh keempat pembicara pada seminar kecil kali ini yang dihadiri oleh mahasiswa intern Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada hari Selasa, 18 Februari 2020.

Dimoderatori oleh Dr. Katrin Bandel sebagai dosen pengampu mata kuliah teori Pascakolonial tentang seni, keempat pembicara yang hadir siang ini mempresentasikan kegelisahan mereka dalam pengalaman berkesian yang dibingkai oleh teori pascakolonial. Keempat pembicara yang merupakan mahasiswa Program Doktoral Kajian Seni dan Masyarakat tersebut membawa berbagai tema yang berbeda-beda. Arif Eko Suprihono berbicara mengenai transkontekstualisasi pertunjukan wayang kulit di televisi, persoalan otentisitas, hibriditas, dan relasi kuasa. Bambang Witjaksono berbicara mengenai bagaimana pembentukan artistik dalam bandara baru Yogyakarta terkait keterlibatannya sebagai kurator dalam proyek seni bandara tersebut. Mengambil judul Tari dan Patung Bedhaya Kinjeng Wesi dalam perspektif hibriditas dan Otentisitas, Bambang Witjaksana berusaha melihat bagaimana bandara sebagai ruang modern berusaha menunjukkan identitas kejogjaannya salah satunya dalam kerangka turisme. Iriano Yedija Petrus Awom berbicara mengenai representasi identitas anak muda Papua lewat musik reggae: antara hibriditas dan otentisitas dan yang terakhir adalah Priyo Pratikno yang berbicara tentang membaca pesan YB Mangunwijawa lewat wastu Citra berdasar konsep hibriditas dan otentisitas.

Keempat pembicara tersebut menyoroti bagaimana hibriditas yang selalu terjadi dalam setiap produk budaya yang menjadi materi dalam seminar kali ini. Hibriditas yang selalu hadir sebagai hasil dari adanya ketimpangan kekuasaan maupun dalam usaha mencari yang otentis dalam dunia yang sudah seba cair dan menggelobal saat ini. Hibriditas yang ditemukan dalam identitas diri seseorang seperti reggae yang berasal dari Jamaika menjadi bagian dari identitas Papua, maupun dalam patung Bedhaya Kinjeng Wesi yang mengapropriasi tari Bedhaya yang menjadi salah satu otentisitas dari Yogyakarta yang perlu dan penting untuk diperlihatkan dalam membentuk identitas dari bandara baru Yogyakarta. Hibriditas juga menjadi suatu usaha menyesuaikan diri dengan kekuasaan media dan pasar sebagaimana yang dibicarakan oleh Arif Eko yang melihat perubahan penataan dalam pertunjukan wayang yang disesuaikan dengan kepentingan kamera dan studio dalam tayangan wayang kulit di televisi.

Otentisitas sendiri menjadi bahan perdebatan yang cukup seru. Apakah otentisitas dilihat sebagai suatu produk yang orisinal dari seseorang ataukah sebagai suatu wacana mencari yang murni, yang steril dari berbagai pengaruh luar. Suatu ketidakmungkinan dalam kenyataan di dunia ini saat pertemuan dan interaksi terjadi terus menerus antara berbagai budaya dan latar belakang. Antara yang ada saat ini dan yang sudah ada sejak masa lalu. Priyo Pratikno dalam pembicaraannya terkait dengan hal ini mempertanyakan apakah ada arsitektur yang merupakan penggambaran Indonesia. Apakah ada Indonesia yang otentis?

St. Sunardi menutup diskusi yang menarik ini dengan memberikan penggambaran dalam konteks penciptaan sesuatu yang otentik itu harus hibrid. Pemosisian yang harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan zamannya, jangan tersesat pada apa yang melahirkan bentuk. Sebagai seorang Jawa, St. Sunardi merasa diri lebih otentik ketika dirinya mengajar tentang teori barat kepada mahasiswanya yang relevan dengan kehidupan saat ini dibandingkan jika dia mengajar macapat yang malahan membuat dirinya terasing dari dirinya sendiri. Maka yang hibrid itulah yang otentik, kedua hal yang tidak bisa atau tidak perlu diperlawankan. (an)

 

 

 

hal. 1  2  
© 2020 - S3 Program Doktor Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta