S2 Ilmu Religi dan Budaya

Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma

BERITA

Diskusi & Bedah Buku Oase Drijarkara
17 April 2015
Diskusi & Bedah Buku Oase Drijarkara  :: S2 Ilmu Religi dan Budaya

Bedah Buku Oase Drijarkara: Tafsir Generasi Masa Kini

Puruhita dan Oase-nya

 

Tampaknya, bagi Drijarkara, selalu ada sesuatu yang tak selesai. Ada sesuatu yang misterius yang senantiasa ia rindukan. Makanya, Drijarkara menuliskan nama samarannya di mjalah Basis dengan Puruhita – yang tak lain berarti cantrik. Cantrik sendiri, yang diserap dari bahasa Jawa, digunakan untuk menyebut orang yang sedang berguru pada orang “pandai”, pertapa, atau juga pengikut. Begitupun Drijarkara: Puruhita yang selalu “meragukan postulat, bertanya, menggugat segala bidang, termasuk tentang dirinya sendiri”, kata Soe Hok Gie.

Tidak heran apabila kemudian pater jesuit kelahiran 13 Juni 2013 ini melihat pendidikan sebagai bagian penting dalam kehidupan. Pendidikan adalah jalan menuju manusia. Lantas, pendidikan berarti memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia tidak lain adalah memandang dan mempraktikkan postulat bahwa “manusia adalah kawan bagi sesama” – homo homini socius.

Setelah hampir 50 tahun kepergiannya, lalu bagaimana menafsirkan Drijarkara? Pertanyaan ini kemudian dijawab dalam sebuah kumpulan tulisan berjudul Oase Drijarkara: Tafsir Generasi Masa Kini yang terbit Maret 2014 lalu. Dalam catatan-catatan Drijarkara, pembaca dapat mencermati apa dan bagaimana pemikiran eksistensialisme dari Kierkeegard sampai Sartre berimpak pada pemikiran Drijarkara. Lantas, pemikiran Drijarkara adalah cara Drijarakara mengada di dunia dan menempatkan kebebasannya dalam ruang yang tak sepenuhnya bebas. Dalam rangka mengenang Drijarkara dan juga hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember 2014, diadakanlah bedah buku tersebut di atas di Ruang Koendjono, Gedung Pusat lantai 4 Universitas Sanata Dharma.

Ada tiga pembicara. Pertama adalah Willem Batlayeri (Mahasiswa S2 IRB Sanata Dharma). Willem menyatakan bahwa pendidikan yang dimaksud Drijarkara – dan mengingatkan pada Paulo Freire – merupakan proses penyadaran berbasis humanisasi. Proses humanisasi didasarkan pada cinta, secara khusus ke-cinta-an dalam mendidik. Tentu saja pendidikan yang dimaksud dimulai dalam ranah keluarga. Karenanya, bapak dan ibu berperan penting dalam kehidupan anak, keduanya mendidik anak dalam nuansa cinta (idealnya demikian, meskipun pada kenyataannya ada yang berbeda). Willem mengatakan bahwa “anak menjadi pihak yang menunggu”, dan dengan demikian, “menginternalisasi nilai-nilai” dari bapak maupun ibu. Dari hubungan ketiganya inilah terbentuk semacam tritunggal. Hal tersebut menunjukkan bahwa Drijarkara memadukan filsafat dengan teologi, dan inilah formatur pendidikan yang ideal!

Masalahnya idealisasi sebagaimana tersebut kemudian melegitimasi kebenaran lewat rejim pengetahuan. Di sisi lain, Willem mengklaim bahwa kebenaran itu plural, tak bisa disempitkan ke dalam ruang-ruang kecil. Ia mempertanyakan Drijarkara yang hanya terpaku pada teologi dan filsafat. Dengan cara pandang yang memberi ruang seluas-luasnya terhadap kebenaran, boleh jadi akan didapat pembacaan yang cair terhadap Drijarkara. Kemudian, patut untuk terus dipertanyakan adalah: praksisnya bagaimana?

Pembicara kedua adalah Sudjud Dartanto. Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta) yang juga alumnus Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma (IRB USD) ini menyampaikan materi berjudul “Pengalaman Estetis: Momen yang Membekas, yang Selalu Ingin Dihadirkan Kembali”. Sudjud membukanya dengan lukisan Monalisa-nya Leonardo da Vinci yang menjadi inspirasi sampul buku Oase Drijarkara. Kemudian berpindah ke lukisan Basuki Abdullah, berjudul Wanita Jawa. Sudjud menyampaikan bahwa kedua lukisan menciptakan smeacam momen perjumpaan yang kemudian ia bahasakan dengan alam keindahan. Bagi Drijarkara, dua substansi – roh dan badan – dikait-kaitkan dengan djiwa kethok-nya S. Sudjojono. Pengalaman estetis, bagi Drijarkara, adalah sesuatu yang tak terhingga, tak terkatakan, spontan, irasional, bahkan sublim!

Lalu bagaimana orang mengalami pengalaman estetis tersebut? Sayangnya, selalu ada sebuah tumbukan dalam perkara etis dengan estetis ketika dilempar ke masyarakat (atau pasar?). Tak heran apabila dalam pameran Agus Suwage di Jakarta mengenai Firdaus sampai disensor oleh pihak-pihak etis. Sebagai tambahan. Sudjud juga mengklaim bahwa protokol akademis bagi mahasiswa seni terkadang justru menjadi penghalang. Formalitas ini justru bisa membatasi minat akan (ber)karya. Prosedur ini, menurut Drijarkara, mengantarkan manusia ke dalam formalisme dan verbalisme yang berpotensi menghalang-halangi kejujuran akan pengalaman.

Ajeng Dewanti, yang menjadi pembicara ketiga, menyampaikan tulisannya dalam buku termaksud. Mahasiswa IRB USD ini menggambarkan bagaimana Drijarkara melihat perempuan. Bagi Drijarkara, perempuan menjadi imaji tertinggi dari religiusitas. Bahkan perempuan adalah gereja itu sendiri yang sedang berjalan dalam dunia – yakni nilai tertinggi sebagai representasi dari Tuhan itu sendiri. Sekali pernah Drijarkara di Jerman dan pergi ke sebuah biara di atas pegunungan. Ia membayangkan tempat tersebut sebagai tempat di mana Bunda Maria berada. Sementara itu, pada jaman Nazi, tempat itu menjadi salah satu tempat penjagalan para Yahudi. Meskipun tempat itu pernah memiliki sejarah yang pahit, ternyata tempat tersebut bisa menjadi tempat yang bisa dibilang suci.

Imaji kedua adalah berkaitan dengan imaji perempuan dan kesetaraan. Pada tahun 50an, Drijarkara melihat bahwa poligami tidak menghadirkan kesetaraan. Drijarkara mengajak pembaca untuk memikirkan ulang tentang apa itu kesetaraan. Bahkan, bagi Drijarkara, penampilan luar tidak serta-merta mencerminkan kesetaraan – atau kebebasan(?).

Suatu kali, ketika Drijarkara berada di Wina, ia bertemu dengan seorang suster yang mampu berbicara dalam 4 bahasa. Wawasan suster tersebut, bagi Drijarkara, amatlah luas. Di sinilah kemudian orang boleh berpikir bahwa Drijarkara memandang perempuan adalah juga salah satu tonggak pendidikan. Selain itu, Drijarkara juga menyandingkan perempuan dengan kerja. Lagi-lagi ia mencatat tentang suster-suster, ia senang melihat para suster itu bekerja tanpa bersungut. Keempat, ia juga melihat imaji perempuan yang selalu berkorban. Pengorbanan yang dimaksud di sini dikaitkan dengan ketulusan – kasih seorang perempuan dan ibu.

Syahdan, oase – tempat atau pengalaman menyenangkan di tengah kekalutan – dan optimisme Drijarkara boleh saja mengantar para pembacanya ke arah permenungan filosofis bahwa “Hidup itu suatu kegembiraan yang besar... Setiap kehidupan adalah gerak ke arah Tuhan.” Sekian. (Albert-IRB)

hal. 1  2  
© 2017 - S2 Ilmu Religi dan Budaya - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta