S2 Ilmu Religi dan Budaya

Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma

BERITA

Peluncuran dan Bedah Buku “Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru”
17 April 2015
Peluncuran dan Bedah Buku “Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru” :: S2 Ilmu Religi dan Budaya

Peluncuran dan Bedah Buku “Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru”

Pada tanggal 5 Desember 2014,  Program Studi Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma menyelenggarakan peluncuran dan bedah buku “Seni Pertunjukan Indonesia Pasca Orde Baru”. Deretan nama seperti Prof. Barbara Hatley dari Universitas Tasmania Australia, DR. ST Sunardi dari Prodi IRB Universitas Sanata Dharma dan DR. Lono Simatupang dari Prodi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada, hadir sebagai para pembicara. Romo G Budi Subanar SJ membuka acara dengan memberikan penghormatan pada tiga orang seniman yang telah meninggal dunia, yaitu Slamet Gundono, Kadek Suadarna dan Mari Nabeshima. Sosok dan sumbangan ketiga seniman itu juga dibahas dalam buku. Selanjutnya, masing-masing pembicara memberikan paparan, yang berangkat dari titik perhatian yang berbeda.

“Hore!” adalah kata pertama Prof. Barbara saat memulai presentasinya. Beliau mengungkapkan rasa senang dan syukur, atas terbitnya buku itu. Prof. Barbara kemudian memberikan gambaran singkat mengenai rangkaian tulisan yang diangkat dari proses workshop di tahun 2010. Beliau menceritakan bahwa pada era Orde Baru, para seniman Indonesia begitu aktif mengkritik praktek pemerintahan rejim di masa itu. Namun nampaknya, mereka mulai kehilangan musuh bersama setelah kekuasaan Soeharto tumbang. Kondisi semacam itu membuat para seniman menempatkan permasalahan sosial masyarakatnya, sebagai fokus utama. Mereka tidak melulu membicarakan negara dalam kerangka besar, akan tetapi dalam gerakan-gerakan yang kecil yang berbasis komunitas. Selain itu, Beliau juga menyinggung bahwa mungkin saja tulisan-tulisan dalam buku tersebut terkesan sudah basi, karena membicarakan kondisi yang terjadi pada 4 tahun yang lalu. Namun setelah direvisi, ia berharap buku tersebut dapat memberikan manfaat bagi seni pertunjukan di Indonesia sekarang ini. Selain itu, menurutnya artikel-artikel di dalam buku juga memberikan tantangan dan ruang kerja baru bagi para peneliti, agar dapat meneruskan dan mengembangkannya seturut konteks di masa kini.

Selanjutnya, DR. Lono Simatupang menggelitik para peserta bedah buku dengan pertanyaan, mengapa universitas yang tidak memiliki jurusan seni lah yang mengkaji permasalahan mengenai seni? Mengapa bukan institut yang jelas melahirkan banyak seniman? Menurut beliau, apa yang dilakukan oleh para akademisi universitas ini berawal dari kesadaran untuk memahami keniscayaan dan arti penting seni. Itulah upaya yang dilakukan para penulis dalam buku tersebut. Mereka berangkat dari pengalaman dan perjumpaan dengan berbagai peristiwa seni, yang diciptakan dan diterapkan melalui teknik-teknik tertentu. Seni pertunjukan tidak hadir hanya dalam bentuk is performace, akan tetapi juga as performance. As performance lahir dari aktivitas-aktivitas sosial di dalam masyarakat. Kedua hal tersebut adalah peristiwa seni, yang sarat dengan dimensi politis, sosial, ekonomi, maupun religius. Kesemuanya itu memuat dimensi artistiknya sendiri. Dimensi artistik dan kebentukan inilah yang diramu kembali, agar didapatkan makna yang baru, segar dan kontektual. Pemaparan ini kemudian ditutup dengan kritik tentang minimnya pembahasan mengenai elemen kebentukan. Menurutnya, dari dua belas tulisan, hanya ada empat tulisan yang memberi perhatian pada dimensi kebentukan.

DR. ST Sunardi, yang menjadi pembicara terakhir, hadir dengan tulisan yang berjudul ”Seni Pertunjukan Indonesia: Dari Pasca Orde Baru Menuju Orde Manajerial Baru?”. Beliau tidak terpaku pada apa yang telah ditulis dalam buku. Akan tetapi mencoba melihatnya melalui sisi yang berbeda, yaitu dari sisi manajerialnya. Pada awal pemaparannya, DR. Sunardi membahas mengenai 3 (tiga) macam relasi kelompok seni dengan Orde Baru. Kelompok pertama adalah kelompok yang tidak banyak terpengaruh dengan peristiwa tumbang atau tidaknya Orde Baru. Kelompok kedua adalah kelompok yang kemunculannya terkait dengan tumbangnya Orde Baru. Sedangkan kelompok ketiga adalah kelompok yang dengan sadar berupaya untuk melihat kembali keadaan snei pertunjukan pasca Orde Baru. Mengenai permasalahan manajerial, DR. Sunardi mengungkapkan kegelisahan di kala melihat fenomena lembaga-lembaga dengan alokasi dana besar untuk pertunjukan seni, namun belum memiliki aturan yang jelas dalam tata aturan pelaksanaan. Kecenderungan itu membuat para seniman tidak lagi berorientasi pada kualitas karya seni dihasilkan atau dipentaskannya, namun  terkesan lebih terfokus pada upaya untuk  menghabiskan anggaran semata. Beliau menekankan bahwa bila seni pertunjukan memiliki fungsi untuk mengintensifkan kehidupan, maka harus diiringi dengan penataan ulang hubungan antara seni dan kekuasaan. Di situlah letak mendesaknya penanganan di ranah majerial seni pertunjukan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan seputar permasalahan kategori adiluhung-populer, sumbangan buku tersebut pada seni pertunjukan secara umum, dan persoalan dana istimewa di Yogyakarta. Selain pertanyaan, adapula peserta yang mengajukan gugatan tentang minimnya tulisan mengenai seni pertunjukan di luar Jawa  dan tulisan mengenai kontradiksi yang lokal-global dalam seni pertunjukan tradisional. Setelah sesi tanya-jawab, ibu Devi Ardhiani mewakili Prodi IRB memberikan kenang-kenangan pada para pembicara. Sebagai penutup, kelompok musik Beringin Soekarno yang terdiri dari para mahasiwa IRB, melantunkan lagu-lagu bernuasa tahun 60-an. (Vini-IRB)

hal. 1  2  
© 2017 - S2 Ilmu Religi dan Budaya - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta