S2 Ilmu Religi dan Budaya

Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma

BERITA

ASCOLTACI #4
17 April 2015
ASCOLTACI #4 :: S2 Ilmu Religi dan Budaya

Semua Orang Adalah Gathutkaca

 

Pada Jumat, 27 Februari 2015, Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma melangsungkan kegiatan Asoltaci yakni seminar bulanan di ruang Driyarkara, gedung pusat Lt. 4 Mrican.  Seminar ini mengambil tema SUPERHERO DI TENGAH PASAR yang merupakan hasil penelitian dari Gogor Seta Dewa, alumnus IRB.  Seminar ini sebagai bentuk kelanjutan pertanggungjawaban akademis para lulusan IRB sekaligus membagi kekayaan intelektual dari hasil penelitian. Untuk memperkaya wawasan dan melihat konteks pasar, seminar ini dihadiri juga oleh Deny Ardiyanto seorang sutradara dan bapak Rudi Anitio, penggiat bisnis perfilman serta peserta dari berbagai latar belakang; dosen, mahasiswa, masyarakat awam

Dalam pengantarnya, Gogor sebagai pembicara utama menyebutkan dua alasan mengapa memilih film Superhero sebagai arena penelitiannya yakni kehidupan masyarakat saat ini dikelilingi oleh dunia film, dan film-film superherolah yang lebih dikenal dan digemari masyarakat. Adapun film superhero yang menjadi bahan kajiannya yakni Batman Begins, The Dark Knight dan Madame X. Kedua film pertama merupakan produksi Holywood, sedangkan Madame X produksi Indonesia. Dalam membedah film-film ini, Gogor menggunakan teori analisis struktural naratif Roland Barthes. Dimana dalam analisis struktural itu terdapat tiga tingkatan makna yakni analisis fungsional, analisis tindakan (actions) dan analisis narasional. Analisis fungsional untuk mendeskripsikan cerita ke dalam satuan-satuan naratif dan menunjukkan hubungan satu sama lain. Analisis tindakan berusaha menunjukan posisi dan hubungan para aktan dalam cerita tersebut, sedangkan analisis fungsional berfungsi untuk menunjukan deskripsi makna yang dihasilkan dari dua proses analisis sebelumnya.

Menurut Gogor, tidak ada definisi yang baku mengenai superhero. Roz Kaveney mendefinisikan superhero sebagai manusia dengan kekuatan yang melebihi kemampuan atau berbeda dari manusia biasa, yang dia gunakan untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan melindungi orang tak bersalah. Pendapat lain, Danny Fingeroth mengartikan sebagai individuals with fantastic powers.

Dari ketiga film superherro yang ditelitinya (Batman Begins, The Dark Knight, dan Madame X), Gogor menemukan bahwa film superhero itu sebagai medan ideologis. Kisah-kisah superhero dibaca sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap hukum maupun tatanan sosial. Film Madame X adalah contoh menarik tentang masalah gender di Indonesia. Film ini memiliki dimensi emansipasi, perjuangan kelas serta berusaha mengeritik pandangan yang tidak membebaskan tubuh perempuan. Sedangkan film Batman Begins dan The Dark Knight merupakan eksplorasi terhadap wacana war on terror milik George W. Bush. Kedua film itu menunjukkan kencederungan mendukung tindakan militan untuk melawan terorisme. Selain sebagai medan ideologis, film superhero juga berfungsi sebagai utopia, karena membayangkan sesuatu di luar realitas dan untuk memperbaiki keadaan kearah yang lebih baik. Ketiga film itu secara umum membayangkan stabilitas dan keamanan sosial dalam artian adanya keseimbangan dan tidak ada pihak yang menjajah pihak lain.

Pembicara kedua, Deny Ardianto mencoba menempatkan konsep superhero dalam konteks Indonesia. Menurutnya, dalam konteks Jawa dikenal tokoh Gathututkaca sebagai superhero.  Imaji orang Jawa terhadap Gathutkaca yakni sebagai sosok yang berani tidak mengenal takut, teguh, tangguh, cerdik, waspada, tangkas, tabah  dan mempunyai rasa tangungjawab.  Ia berjiwa patriotik dan loyalitas dalam mengabdi pada bangsa dan negara. Tokoh Gathutkaca ini memberikan inspirasi bagi banyak orang. Bagi Deny, gambaran Gathutkaca ini sebagai representasi pribadi manusia. Premisnya, semua orang adalah Gathutkaca dan superhero, karena ada daya kekuatan dalam diri masing-masing. Ini sebagai kawacakradimuka. Ketika menghadapi masalah, kita harus berani menyelesaikannya karena kita adalah Gathutkaca, kata Sutradra Risang Tetuka ini.

Pembicara ketiga, Rudi Anitio, melihat film superhero dalam konteks pasar. Menurutnya, genre superhero sangat digemari oleh market. Dari pengamatannya, film superhero menjadi idola masyarakat umum baik anak-anak maupun orang dewasa. Film-film Superhero menjadi menarik dan sukses karena dari film itu muncul  kerinduan lebih untuk mengatasi berbagai masalah, seperti peran para superhero. Mas Rudi juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap film nasional yang kalah bersaing dengan film-film produksi holywood. Disisi lain ia mengeritik minimnya peran film nasional untuk memberikan kritik terhadap aparatus negara maupun pemerintah. Ini berbeda dengan film Amerika yang terbuka membuka keburukan pemerintah.

Ketiga pembicara ini sungguh memukau peserta dengan materi-materinya yang kontekstual. Seminar ini dimeriahkan oleh kelompok musik mahasiswa ISI Yogyakarta, kemudian diskusi dialogis ddan diakhiri dengan resepsi bersama.

 

hal. 1  2  
© 2017 - S2 Ilmu Religi dan Budaya - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta