S2 Ilmu Religi dan Budaya

Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma

BERITA

Ascoltaci #6
20 May 2015
Ascoltaci #6 :: S2 Ilmu Religi dan Budaya

Dinamika Ummat Islam Pedesaan Dalam Kontestasi Ideologi-Ideologi Islam Hari ini

 

Notulen: Kurniasih - 2011 

Penelitian yang diseminarkan adalah penelitian Syaifuddin Amsa M. Hum tentang relasi antara warga kultural dengan warga kelompok Majelis Tafsir Al-Quran yang dilakukan di Desa Alas Jati Bangkerep. Pada tahun 1990-an di desa Jati ini ada geliat merintis kehidupan keagamaan dengan cara bergabung dengan MTA di Solo  lalu membukanya di desa tersebut. Sehingga praktek-praktek keagamaan desa ini mengikuti MTA. Tujuannya adalah untuk kembali pada teks Al-Quran dan Hadis. Tetapi Kehadiran MTA mengubah struktur dan corak keseharian di desa di tengah perubahan sosial, individu mencari stabilitas dan keamana diri sekaligus membangun diri yang baru. MTA adalah jawaban untuk masyarakat desa tersebut.

 Ajaran purifikasi Islam berlaku di sini. Pernah ada konflik kekerasan di dalam desa. Konflik ini cukup besar diliput oleh media massa. Di awal-awal ketika MTA mengalami peningkatan jumlah. Perubahan sosial tersebut membuat individu mencari kenyamanan. Mereka menganggap doktrin purifikasi Islam sebagai sumber kenyamanan, kompensasi perubahan sosial yang ada. Tetapi apa yang terjadi di sana adalah pertentangan simbolik dengan kapital yang mereka miliki masing-masing. Pihak yang dominan berusaha untuk mempertahankan posisinya, sementara yang marjinal berusaha untuk merebut posisi.

Sedangkan pembicara kedua, Prof. Nasaruddin Umar menanggapi bahwa penelitian ini adalah entry point untuk memahami fenomena berdampingannya dua corak yang berbeda (MTA dan kultural). Dua hal yang sangat kontras dapat bersanding di desa Bangkerep. Tidak ada satu aliran dan mazhab yang seradikal MTA (pembaharuannya sangat radikal. Mengapa tidak berkerja sama dengan organisasi Islam dulu seperti NU dan lain-lain). Penelitian Amsa baik untuk diterbitkan untuk memberi perspektif kepada para antropolog bahwa dua aliran kontras dapat berdiri bersama.  Kehadiran organisasi baru seperti MTA ini merupakan salah satu ‘kemarahan’ orang-orang desa karena tidak terperhatikan oleh organisasi-organisasi Islam. Organisasi Islam kurang memperhatikan kemiskinan desa misalnya. Lembaga Swadaya Masyarakat malah lebih getol mendampingi persoalan kemiskinan.

Di sisi lain, di Indonesia biasa terjadinya lompatan teologi: teology shock. Sebelum adanya isu globalisasi, ketika negara Indonesia masih tradisional, keislaman masih kental dengan satu aliran asyar’i yang anak tangga kedua setelah jabarisme. Tetapi di Indonesia malah langsung lompat ke mazhab yang keras sehingga membuat shock: itulah Indonesia: dari teologi level kedua lompat ke teologi level ketujuh. Di sini juga dipengaruhi oleh personal atau pergeseran elit pesantren (digeser oleh sarjana, KH digeser) juga pergeseran bangsawan. Elit-elit pesantren digeser oleh elit-elit sarjana. Profesor lebih atas posisinya daripada kyai haji. Di samping itu pengaruh yang sangat dahsyat adalah pergeseran elit bangsawan.

Mengenai Islam dan keindonesiaan, bagaimana ke depan? Tidak mungkin menolak perubahan sosial karena bersifat niscaya. Tapi tetap keindonesiaan itu harus tetap dipertahankan. Sama halnya seperti Keamerikaan, keiranan, dan lain-lain. Globalisasi tidak perlu merobohkan ‘rumah’ yang sudah kita tanam. Al-Quran memberikan cultural right, budaya lokal untuk menafsirkan A-Quran. Jangan mengambil alih diksi bangsa lain kepada kita. Al-Quran itu bersifat manusiawi, itu harus dibangkitkan. Dengan demikian harus ada reindonesiasi keislaman. Globalisasi bukan bersifat mencabut orisinalitas lokalitas. Hadis mengungkapkan, “Kami diutus untuk menyempurnakan” jadi Islam hadir bukan untuk membuldozer. Pendekatan memperhadapkan selalu gagal. Tuhan saja berdialog dengan iblis. Kalau kita tidak berdialog itu menentang caranya Tuhan

hal. 1  2  
© 2017 - S2 Ilmu Religi dan Budaya - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta