Universitas Sanata Dharma

Program Pasca Sarjana

Loading
HomeProfileBeritaAgendaFasilitasKontakPengumuman

BERITA KEGIATAN

Diskusi Terbatas "Mencari Perspektif Pascakolonial dalam Kritik Sastra dan Kritik Tari"
S3 Program Doktor Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) | 19 March 2019
Diskusi Terbatas "Mencari Perspektif Pascakolonial dalam Kritik Sastra dan Kritik Tari" :: Fakultas Pasca Sarjana USD Yogyakarta

Iman Sukmana sebagai pembicara pertama berbicara dalam konteks sastra dan Pascakolonialitas dengan mengambil contoh dari novel Mangunwijaya yang berjudul Durga Umayi denga tajuk “Ironisme Durga Umayi: Nasionalisme, Pascakolonialisme, dan Humanisme.” Iman Sukmana memandang bahwa tokoh dari Novel tersebut, Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida sebagai representasi dari perjalanan bangsa Indonesia sendiri. Yang melewati masa sebagai kanak-kanak di era Belanda, masa penuh pergolakan di era kemerdekaan dan masa dewasa sebagai pelacur yang dianggap sebagai metafora pemerintahan Indonesia yang juga melacurkan diri dengan menjual Indonesia. Bagi Iman Sukmana, Mangunwijaya sebagai sosok yang ironis di mana dia bisa mengkritisi posisinya sebagai manusia dari negara Pascakolonial yang tetap juga membawa nilai-nilai humanis dalam karyanya.

Pembicara kedua adalah Troy yang memproblematiskan reaktualisasi dari Tari Bedhaya Semang. Dalam presentasinya yang bertajuk “Wacana Jogja Klasik dalam Bedhaya Semang” dia berbicara bagaimana pencarian dari identitas ke-Jogja-an yang direpresentasikan dalam Tari Bedhaya Semang. Troy melihat bagaimana dalam proses reaktualisasi itu melibatkan adanya proses hibriditas, adanya pembedaan antara seni tinggi dan seni pinggiran, dan masih adanya mitos-mitos yang menyertai bagaimana proses reaktualisasi dari Bedhaya Semang tersebut.

Menjadi menarik adalah kehadiran dari Bapak Dr. Sal Murgiyanto, yang merupakan seorang pengajar sekaligus kritikus yang telah lama bergelut di dunia tari. Pak Sal memberikan berbagai pandangan yang menarik dalam menyikapi suatu proses perkembangan atau reaktualisasi dari seni harus melihat konteks dan kondisi saat ini, di mana perkembangan seni itu harus melihat tujuannya untuk for soul atau for sale. Dan dalam perkembangannya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjaga jiwa dari kesenian tersebut.

Diskusi ini masih merupakan suatu usaha pencarian dari minat para pembicara dalam melakukan penelitian untuk disertasi yang akan dilakukan. Kesenian sebagai suatu bentuk tradisi masih terus menerus mencari bentuknya sampai sekarang. Kesenian yang menjadi wakil identitas setempat dan wujud keotentikan. Wacana yang juga mencerminkan identitas asli manusia yang dijajah. “Masih ada banyak hal yang belum terjawab, tetapi itulah yang memang menjadi pekerjaan rumah bersama,” tutup Dr. Katrin Bandel. (ASH)

lihat berita S3 Program Doktor Kajian Budaya (Kajian Seni dan Masyarakat) lainnya>>
hal. 1  2  3  4  5  ...  7
 
© 2019 - Program Pasca Sarjana - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  Kontak Kami