Edukasi dan Skrining Sindrom Metabolik pada Kelompok Lansia di Posyandu Lansia Danurejan Yogyakarta

19/07/2022

Sindrom   metabolik   (SM)   telah   banyak   ditemukan   di   masyarakat dikarenakan adanya perubahan gaya hidup. Angka kejadian Sindrom metabolik di Indonesia cukup tinggi, tetapi sebagian besar masyarakat belum memahami dampak akibat adanya sindrom metabolik. Peran akademisi sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan pemberian edukasi dan melakukan tindakan deteksi dini.

Tim Pengabdi Farmasi USD dipimpin oleh dr. Fenty, M.Kes.,Sp.PK. dibantu oleh apt. Ipang Djunarko M.Sc., apt. Putu Dyana Christasani, M.Sc. dan tim relawan mahasiswa Agata Dyah Ayu Putri (208114035), Nikita Rahmadiva (208114038), Maurenn Ellennia (208114098) telah mengadakan edukasi dan skrining Sindrom Metabolik pada kelompok lansia Danurejan di Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi dengan pihak Puskesmas Danurejan dan kader lansia pada tanggal 15 – 19 Juni 2022 terkait pengisian acara pengabdian serta pelaksanaan pemeriksaan glukosa darah. Pelaksanaan kegiatan ini terdiri dari tim Farmasi USD (3 dosen dan 3 mahasiswa), pihak Mitra RS Bethesda Lempuyanganwangi Yogyakarta (RSBL) dengan tim 1 orang analis dan 1 staf Humas RSBL, 2 orang petugas Puskesmas Danurejan I, serta 4 kader posyandu lansia. Kegiatan edukasi dan skrining sindrom metabolik dilaksanakan tanggal 20 Juni sore hari dari pk 16.00 sampai pk 18.00 di balai pertemuan RW 14 Tegal Panggung.  Peserta ada 66 orang terdiri dari 38 lansia dan 33 pra lansia.

Kegiatan pengabdian dengan melakukan penggalian data, identitas, pengukuran lingkar pinggang, pemeriksaan glukosa darah. Pada kegiatan ini juga ada peserta pra lansia yang hadir maka pemeriksaan glukosa darah pra lansia yang dilakukan oleh kader Puskesmas Danurejan I, sedangkan pemeriksaan glukosa darah lansia dilakukan oleh analis RSBL. Bersamaan dengan kegiatan skrining sindrom metabolik, dilakukan juga pengukuran tingkat pengetahuan kelompok sasaran dengan menyebarkan kuesioner tentang sindrom metabolik. Pada pengukuran pengetahuan sindrom metabolik ini hanya dilakukan pada 14 peserta saja  (8 wanita dan 6 laki-laki) dikarenakan lansia enggan membaca serta waktu yang hanya singkat dalam ruangan (karena protokol Covid-19).

Pengukuran pengetahuan di awal ada peserta yang mendapat skor baik yaitu 80% menjawab benar tetapi ada juga peserta yang sangat rendah tingkat pengetahuannya yaitu 20% jawaban yang benar. Rerata tingkat pengetahuan peserta adalah sebesar 58,57%. Gambaran awal tentang pengetahuan peserta menunjukan masih perlunya kegiatan pemberian edukasi tentang sindrom metabolik sehingga masyarakat dapat memahami dengan baik dan dapat melakukan tindakan pencegahan. Hasil pemeriksaan terhadap lingkar pinggang, terdapat 6 peserta laki-laki yang memiliki obesitas sentral > 90cm dari 13 lansia laki-laki yang hadir serta 19 lansia wanita dengan lingkar pinggang >80 cm dari 25 lansia wanita. Sebagian besar lansia mengalami obesitas sentral (66%). Pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu/ GDS , terdapat 4 lansia (10%) yang memiliki GDS di atas 200mg/dl. Pada sindrom metabolik, kriteria peningkatan tekanan darah menggunakan batas 130mmHg untuk systole dan 85 mmHg untuk diastole. Berdasarkan kriteria ini, terdapat 29 lansia  (76%) dengan systole di atas 130 mmHg dan  16 lansia (42%) dengan diastole di atas 85 mmHg.

Dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh LPPM USD ini perlu tindak lanjut kemitraan dalam berkolaborasi antara akademik, pemerintah, pihak swasta seperti RS, dan komunitas masyarakat seperti seperti kader masyarakat, petugas puskesmas maupun mitra untuk memonitor kesehatan lansia dengan mengupayakan penurunan faktor risiko komponen sinrom metabolik. Peranan mitra kerjasama adalah menyediakan tenaga analis kesehatan dan petugas Puskermas Danurejan I untuk membantu proses skrining pengukuran glukosa darah dan tekanan darah, Sebagian reagen pemeriksaan glukosa darah disediakan Puskesmas untuk peserta pralansia. Bersama pihak tim Fakultas Farmasi USD yang membantu dalam peran edukasi dan pendampingan, data-data kesehatan lansia juga diserahkan ke pihak Puskesmas dan  Humas RSBL agar dapat membantu pemantauan keberlanjutan program ini setelah pengabdian selesai demi ketercapaian peningkatan hidup sehat masyarakat Indonesia khususnya di wilayah Danurejan, Kota Yogyakarta. (IP)

 kembali