www.usd.ac.id
www.usd.ac.id
  Cerdas & Humanis
English Version  English Version
Loading
HOME TENTANG USD PENERIMAAN MAHASISWA BARU AKADEMIK
  Mail USD      Kontak
:: Berita Kegiatan
Seminar Sanata Dharma Berbagi: "Menyoal Identitas, Meretas Diskriminasi, dan Kekerasan Kolektif"
USD | 11 June 2018 | 11:20 WIB
  
Seminar Sanata Dharma Berbagi:

Bertempat di ruang Koendjono, Gedung Pusat, Kampus 2 USD pada hari Jumat (8/6) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) USD menggandeng Program Magister Ilmu Religi dan Budaya (MIRB) dan Fakultas Psikologi USD untuk mengadakan seminar dengan tema “Menyoal Identitas, Meretas Diskriminasi, dan Kekerasan Kolektif”. Seminar ini menghadirkan pembicara Yustinus Tri Subagya, M.A., Ph.D. dosen dari MIRB dan Monica Eviandaru Madyaningrum, M.App.Psych., Ph.D. dosen dari Fakultas Psikologi. Seminar yang dipandu oleh Edward Theodorus, M.App.Psy dosen dari Fakultas Psikologi USD tersebut diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari mahasiswa dalam USD maupun luar USD, dosen USD, maupun dosen luar USD.

Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat sekaligus terima kasih kepada ibu Monica dan bapak Tri Subagyo bukan hanya karena telah menyelesaikan studi S3 tetapi juga dengan suka rela membagikan ilmunya. “Kalau kita melihat pada akhir-akhir ini kita selalu melihat permasalahan tentang identitas individu maupun kelompok dipakai sebagai alat politik, maka persoalan identitas menjadi lebih sangat kompleks untuk kita gali. Oleh karena itu saya sangat senang dengan adanya seminar kali ini karena mengajak kita untuk mengungkap persoalan tersebut, lebih-lebih dari perspektif minoritas. Selamat berdiskusi, selamat bertukar gagasan, semoga cara kita memahami identitas ini bisa memberikan sumbangan yang konkrit dan memberikan kesempatan bagi kita untuk memasuki wilayah pergulatan yang tidak sederhana ini.” tutur Rektor USD.

Yustinus Tri Subagya, M.A., Ph.D. pada sesi pertama menyampaikan materi tentang relasi identitas etnik dan agama terhadap kekerasan kolektif. Fenomena yang terjadi di Indonesia pada saat transisi demokrasi antara masa orde baru dengan masa reformasi (tahun 1997-2000) menjadi momen sejarah yang cukup kelam. Banyak sekali kekerasan kolektif terjadi di 14 provinsi di Indonesia yang merenggut banyak korban jiwa. Pada masa transisi demokrasi, isu identitas menjadi salah satu faktor yang sering dieksploitasi sebagai contoh kekerasan di daerah Situbondo, di mana orang-orang yang menjadi kaum minoritas (identitas Tionghoa) menjadi korban atas kekerasan kolektif.

“Mengapa orang mau ikut berpartisipasi dalam konflik?” tutur dosen yang menyelesaikan studi S3 di Radboud University di Netherlands. “Hal itulah yang mendorong saya meneliti lebih jauh mengenai persoalan tentang kekerasan yang berlangsung dari sisi individunya. Persoalan tentang identitas bisa menjadi salah satu elemen penting terkhusus pada identitas etnik dan agama terhadap konflik/ kekerasan kolektif di Indonesia hingga saat ini. Adanya kepentingan, kompetisi Sumber Daya Alam (SDA), ataupun kontestasi ideologi dapat menyebabkan terjadinya konflik di Indonesia. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa individu selalu berusaha untuk mengkonstruksikan identitas positifnya kepada kelompoknya dan menjauhkan diri dari kelompok lain.” pungkasnya.

Monica Eviandaru Madyaningrum, M.App.Psych., Ph.D. pada sesi kedua memaparkan materi tentang “Menggunakan Pendekatan Kritis dalam Studi Disabilitas untuk Menyoal Psikologi yang Diskriminatif.” Berdasarkan hasil penelitian ibu Monica, beliau ingin menyampaikan perubahan cara pandangnya kepada disabilitas. Kalau sebagian besar masyarakat melihat disabiltas adalah permasalahan individual atau permasalahan kondisi fisik, ibu Monica ingin memperlihatkan bahwa disabilitas adalah bentuk ketidakadilan sosial. Bentuk ketidakadilan sosial tersebut, seperti diskriminasi dan peminggiran kepada kelompok difabel dari terbatasnya akses kesehatan, pendidikan, dan perhatian.  Sehingga, kelompok difabel dipandang dengan cara “dikasihani”, dan dipandang sebagai orang yang tidak berdaya. Namun, ibu Monica ingin menyampaikan bahwa kelompok difabel seharusnya diperlakukan dan diberikan kesempatan yang setara dengan semua orang, seperti  seorang difabel yang baru bisa melukis, lihatlah berdasarkan hasil karyanya, bukan dilihat berdasarkan penggarapan yang dilakukan oleh seorang difabel dan dianggap ekslusif. Oleh sebab itu, cara pandang kita terhadap kelompok difabel menjadi kunci penting untuk mengurangi diskriminasi.

(KYP & MS)

<< kembali

FAKULTAS

Fakultas Ekonomi
Fakultas Farmasi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Fakultas Psikologi
Fakultas Sains dan Teknologi
Fakultas Sastra
Fakultas Teologi
Program Pasca Sarjana

BIRO

Biro Administrasi Akademik
Biro Kerjasama dan Hubungan Internasional
Biro Layanan Umum
Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi
Biro Keuangan
Biro Personalia
Biro Sarana dan Prasarana
Biro Hubungan Masyarakat

LEMBAGA

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Lembaga Bahasa
Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal

PROGRAM KURSUS BERSERTIFIKAT

English Extension Course
Pel. Kom. Interaktif Bhs Inggris P 60 Jam
Indonesian Language & Culture Intensive Course

LINK

Lembaga Studi Realino
ExeLSa
MonEvIn
Oriental Scholar
Politeknik Mekatronika Sanata Dharma
 

KONTAK

humas@usd.ac.id

USD WEB BADGE

WebBadge USD

JEJARING SOSIAL

Facebook Sanata Dharma Twitter Sanata Dharma Instagram Sanata Dharma
© 2018 - Universitas Sanata Dharma Yogyakarta  |  54.80.93.19: - 4719.3 ms  |   64 user(s) online