Kejernihan. Pembelaan. Kebaruan.
March 2019
M T W T F S S
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Plagiarisme dalam Dunia Perguruan Tinggi

Stop Plagiarism (Source: Google)

Oleh: Yulius

Munculnya berbagai kasus plagiarisme dalam dunia perguruan tinggi mendorong Lingkar Studi Dosen Muda Universitas Sanata Dharma untuk mengusung tema seminar “Plagiarisme Dalam Dunia Perguruan Tinggi”. Seminar ini dilaksanakan pada hari Kamis, 26 Maret 2015, dengan narasumber Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum.Salah satu tujuan utama seminar ini adalah memberikan pemahaman mengenai plagiarisme, agar para dosen tidak terjebak/terperosok sebagai plagiaris/plagiator. Melalui seminar ini juga diharapkan mampu memberikan konstribusi positif dalam meningkatkan kesadaran betapa pentingnya kejujuran intelekutual.

Plagiat berasal dari kata latin “Plagiarus” yang berarti penculik dan “Plagiare” yang berarti mencuri. Berangkat dari asal kata tersebut, secara sederhana plagiat berarti mengambil ide, kata-kata, dan kalimat seseorang dan memposisikannya sebagai hasil karyanya sendiri atau mengunakan ide, kata-kata, dan kalimat tanpa mencantumkan sumber dimana seorang penulis mengutipnya. Dosen dalam hal ini sebagai salah satu akademisi dengan kewajiban menjalankan tridarmanya, khususnya melakukan penelitian sangatlah rentan terprosok dalam plagiarisme.

Dalam pemaparannya Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum mengatakan bahwa terjadinya suatu plagiatisme itu bersumber dari penulis sendiri. Apakah di dalam karyanya terdapat unsur plagiat, penulis itu sendri yang menggetahuinya. Dalam konteks ini jika terdapat unsur plagiat yang harus dipertanyakan adalah bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan pada bagian mana yang dikatakan plagiat? Oleh sebab itu dasar yang utama dalam menulis sebuah karya ilmiah adalah dihidupinya asas keaslian dan asas kejujuran.

Asas keaslian ini diukur atau berdasarkan pada pemikiran sendiri, bukan dari jiplakan. Keaslian atau orisinalitas pemikiran dapat diketahui melalui keunikan dari bahasa maupun isi, oleh sebab itu karya ilmiah itu khas dan unik. Keunikan ini yang kemudian menjadikan hak cipta penulisnya dilindungi undang-undang, karena terdapat kekahasan isi dan bahasanya. Perlindungan ini yang kemudian dikenal dengan Undang-undang Hak Cipta. Berikut ini beberpa jenis plagiarisme (Sudigdo Sastroasmoro, 2007:240) :

  1. Plagiarisme berdasaran aspek yang dicuri
  2. Plagiarisme Ide
  3. Plagiarisme isi (data penelitian)
  4. Plagiarisme kata, kalimat, pragraf
  5. Plagiarisme total
  6. Plagiarisme berdasarkan sengaja atau tidaknya plagiarisme
  7. Plagiarisme yang tidak disengaja
  8. Plagiarisme yang disengaja
  9. Plagiarisme berdasarkan proporso atau presentasi kata, kalimat, paragraf yang dibajak
  10. Palgiarisme ringan < 30%
  11. Palgiarisme sedang 30-70%
  12. Plagiarisme berat atau total >70%
  13. Palagiarisme berdasarkan pola
  14. Plagiarime kata demi kata
  15. Plagiarime mosaik
  16. Self Plagiarisme

Paligiat dan Plagiarime di lingkungan Perguruan Tinggi sendiri sebenarnya terjadi karena beberapa hal. Penulis atau peneliti kurang atau sangat jarang membaca baik buku, jurnal, maupun hasil peneltian. Hal ini yang kemudian turut menumpulkan pengembangan ide. Pada umumnya keterbatasan ini diatasi dengan cara yang singkat dengan mengambil ide-ide dari orang lain tanpa memperhatikan aturan pengutiapan suatu tulisan. Tingginya intensitas kegiatan dan waktu yang semakin berkurang untuk menggali atau menemukan ide-ide baru terkait dengan karya ilmiah yang akan dihasilkan menyebabkan para penulis terperosok ke jalan pintas yang tidak etis melalui palgiat atau plagiarisme. Suatu ide muncul tidak dapat dengan jalan dipacu dan dibuat instan melainkan melalui serangkaian proses yang tidak sederhana. Keterbatasan inilah dan date line penyelesaian karya ilmiah yang terkadang dapat mendorong penulis melakukan penyimpangan dalam bentuk palgiat dan plagiatisme.

Dalam dunia pendidikan tinggi tidak menutup kemungkinan terdapat banyak dosen yang tidak mengetahui secara detail batasan sesuatu dikatakan sebagai salah satu bentuk dari plagiat atau plagiatisme. Kondisi ini yang kemudian memposisikan dosen sebagai penulis dan peneliti dalam posisi yang tidak aman. Batasan ini merupakan hal yang sangat penting, mengingat tidak menutup kemungkinan diantara dosen sebagai penulis dan peneliti memiliki ide yang sama tanpa ada unsur mencuri dan mengambil ide orang lain. Keterbatasan manusia dalam pengembangan dunia ide ini yang memungkinkan antar dosen memilki ide atau pemikiran yang sama terkait dengan penulisan atau peneltian. Disamping itu keterbatasan bahasa juga turut menjadi persoalan. Oleh karena itu perlu kiranya batasan-batasan plagiarime itu lebih diperjelas.

Menurut Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hummengutip adalah masalah etika. Kutipan yang disebutkan sumbernya merupakan perwujudan kejujuran.Hal ini yang kemudian melahirkan sikap menghargai ide dan hasil karya orang lain. Sebagai penutup ada satu hal yang penting bahwa kejujuran intelektual jauh lebih berharga dibandingkan dengan sebuah hasil karya penelitian.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>