USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

'Voice of the Voiceless': Pentas Teater Rakyat 2024 Pendikkat

diupdate: 1 bulan yang lalu

Pentas Teater Rakyat

USD - Jumat, 7 Juni 2024, di Kampus V USD, Prodi Pendidikan Agama Katolik (Pendikkat) FKIP USD menyelenggarakan pentas Teater Rakyat dengan tema 'Voice of the Voiceless' atau 'Suara dari Mereka yang Tak Bersuara'.  Sejak 1985, Teater Rakyat telah mewarnai atau  menjadi salah satu kekhasan dari Kampus V, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma atau yang dulu bernama Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Pentas Teater Rakyat merupakan puncak dari rangkaian pelatihan dalam mata kuliah Public Speaking dan Teater yang menjadi bagian dari Program Praktisi Mengajar yang diselenggarakan oleh Dikti.
 
Sebanyak 73 orang, mahasiswa Semester IV dan Semester VI, dengan antusias mengikuti rangkaian pelatihan Public Speaking dan Teater sejak pertengahan Februari – 7 Juni 2024. Setiap hari Jumat sore selama 2 jam  diadakan pelatihan di bawah asuhan  Romo Yoseph Ispuroyanto SJ (Dosen Pengampu) dan Emmanuel Cahyo Kristianto (Pelatih/Dosen Praktisi Mengajar). Sesi Analisis Sosial diampu oleh Rm. Setyawan SJ. Sedangkan Rm. Murti Hadi Wijayanto SJ mengisi sesi penyusunan naskah teater.
 
Melalui latihan berbicara di depan umum (bahasa foto, puisi) dan berteater, mahasiswa makin mengenal bahwa teater merupakan seni pertunjukan yang memadukan berbagai potensi diri (jiwa, raga dan roh). Latihan ini diproses secara bertahap dari pemahaman mengenai teori public speaking dan teater, olah tubuh, olah vokal, olah bentuk,  olah emosi dan konflik, dramatisasi puisi, analisis sosial, survai lapangan, penyusunan naskah teater, dan latihan-latihan pentas.

Pentas Teater Rakyat
 
Dalam kata sambutan menjelang pementasan, Romo Yoseph Ispuroyanto Iswarahadi SJ menerangkan bahwa teater yang dilatihkan di Pendikkat berorientasi kerakyatan, maka sering disebut teater rakyat.
 
”Dasar biblis dari Teater Rakyat ini adalah ’Magnificat Maria’. Di dalam Magnificat Maria ada kerinduan dan perjuangan akan keadilan dan kebenaran. Oleh sebab itu, materi berteater pun  langsung terkait dengan kehidupan dan persoalan rakyat,” ungkapnya.
 
Romo Iswarahadi menambahkan bahwa Pentas Teater Rakyat ’Voice of the Voiceless’ merupakan ruang perjumpaan para pencari dan penyuara kebenaran. .
 
”Teater Rakyat adalah ini menjadi medium penyaji tema dan bahan permenungan bersama, tidak hanya di antara para pemain, tetapi juga bersama para hadirin yang menyaksikan kisah-kisah yang dipentaskan,” tambahnya.
 
Ada 4 cerita yang ditampilkan secara berurutan dalam penetasan ini, yaitu Dunia Wolak-Walik, Sampah Kota - Kota Sampah, Numpak Opo? dan Balada Anak Jalanan. Keempat cerita di atas disusun oleh 4 kelompok mahasiswa yang megikuti mata kuliah Public Speaking dan Teater.  
 
Dalam proses penyusunan ceritanya, mahasiswa melakuka survei dan berjumpa secara langsung dengan masyarakat miskin yang ada di sekitar kota Yogyakarta selama 3 minggu. Mereka adalah para pengemudi kendaraan tradisional di tengah persaingan dengan transportasi modern, para pemulung dan petugas  sampah di kota,  tukang parkir dan para preman sebagai bagian dari dunia pariwisata, dan  manusia jalanan.  

Pentas Teater Rakyat
 
Apa yang dijalani oleh para mahasiswa Pendikkat USD ini tentu hal yang sangat baik sebagai pengalaman dalam rangka pendidikan mereka sebagai seorang calon guru agama. Kemampuan menganalisis situasi sosial dan mengekspresikan dalam bentuk teater. Seperti yang diungkapkan Bp. Christoporus, yang mewakili Bimas Katolik DIY,
 
”Penting bagi seorang guru agama/katekis mempunyai ketrampilan lain selain mengajar. Misalnya, bisa main drama atau membuat video, yang mampu mengajak peserta didik untuk lebih peduli pada situasi riil masyarakat”.
 
Sementara itu, dalam sambutannya, Wakil Rektor III USD, Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Psi., menuturkan bahwa melalui kegiatan ini, para mahasiswa mewujudkan apa yang menjadi semangat bersama di USD, yaitu bertumbuh, berkreasi dan peduli.
 
”Dengan berproses dalam teater rakyat diharapkan kemampuan berkomunikasi dari para mahasiswa, berani menciptakan hal-hal yang indah, dan mengambil sikap keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan. Betumbuh – Berkreasi – Peduli. Semoga, kepedulian terhadap mereka yang tak bersuara ini diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak hanya berhenti dalam pementasan ini,” harapnya.
 
(YISJ)

  kembali