USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Kepala Badan Bahasa Membahas Internasionalisasi Bahasa dan Sastra Indonesia di USD

diupdate: 1 minggu yang lalu

dok. SasIndo 

Program Studi Sastra Indonesia
USD menyelenggarakan seminar bertajuk “Internasionalisasi Bahasa dan Sastra Indonesia”, Selasa 20 September 2022, di Ruang Koendjono, Gedung Pusat, Lt. 4, Kampus II, Mrican. Seminar tersebut menghadirkan pembicara Kepala Badan Bahasa, Prof. H. Endang Aminudin Aziz, M.A., Ph.D.

Prof. Amin, begitu biasa dia disapa, mengatakan bahasa Indonesia sangat berpotensi menjadi bahasa internasional dalam arti sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) di kancah dunia. Dia pun menjelaskan arah, tantangan, dan upaya Badan Bahasa menjalankan amanat undang-undang untuk mengangkat bahasa dan sastra Indonesia ke tingkat dunia.

Potensi yang disebutkan itu didukung peluang-peluang seperti adanya payung hukum, lembaga kebahasaan, diplomasi bahasa, mitra kerja, minat orang asing, daya tarik alam dan budaya Indonesia, dan sistem kebahasaan yang relatif mudah dipelajari.

Guru besar di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini menyatakan sudah ada peraturan hukum yang memayungi langkah Badan Bahasa sebagai lembaga resmi negara yang berfokus melaksanakan dan menyelenggarakan diplomasi bahasa. “Melalui Undang-Undang Dasar 1945 Pasal, UU No. 24 Tahun 2009, kemudian PP No. 57 Tahun 2014, dan Perpres No. 63 Tahun 2019 ini semua merujuk kepada peningkatan fungsi bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional,” sebut Amin.

Peluang di atas dikuatkan dengan adanya perwakilan Republik Indonesia di lebih dari 125 negara yang sudah mulai bangkit setelah diminta menjadi bagian dari program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Salah satu buahnya, saat ini bahasa Indonesia sudah banyak diajarkan di berbagai negara. Terlebih lagi, minat orang asing terhadap bahasa Indonesia cukup menjanjikan karena ada daya tarik alam, budaya, dan ekonomi dalam negeri yang membuat mereka ingin berkunjung ke Indonesia.

dok. SasIndo

Bahasa Indonesia juga relatif mudah untuk dipelajari. Sistem fonologis dan ortografis bahasa Indonesia relatif sederhana dibandingkan bahasa-bahasa lain. Memang bahasa Indonesia memiliki kerumitan tersendiri bagi para pemelajarnya ketika mereka belajar imbuhan. Namun, itu kan di tingkat lanjut. Pada level awal, bahasa kita relatif mudah dipelajari orang asing. “Jangan bicarakan dulu yang sulitnya. Bicarakan dulu yang mudahnya,” ujar ahli bahasa bidang pragmatik dan sosiolinguistik ini.

Di balik peluang-peluang yang ada, terdapat pula tantangan yang perlu dihadapi. Amin menjelaskan beragamnya sikap bahasa para pelaku diplomasi bahasa dan pemangku kepentingan kadang menjadi hambatan. Selain itu, situasi politik, keamanan, dan ekonomi Indonesia yang fluktuatif kadang menjadi kendala program internasionalisasi bahasa Indonesia. Banyaknya demonstrasi di Indonesia dianggap sebagai indikator ketidakamanan Indonesia. Dampaknya adalah berkurangnya wisatawan asing datang ke Indonesia. “Salah satu alasan Pemerintah Australia mencabut subsidi untuk pengajaran bahasa Indonesia itu adalah karena itu,” kata lulusan Monash University, Australia ini.

Prof. Amin juga menyayangkan kurangnya sinergi antara para pemangku kepentingan untuk tujuan internasionalisasi ini. Sebelumnya, Kemendikbud berjalan sendiri, Kemenlu bekerja sendiri, Kementerian Pariwisata membuat program sendiri. “Mereka tidak pernah bersinergi. Program bersama tetapi tidak pernah dilakukan bersama-sama,” tutur mantan Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Inggris ini.
Tidak dapat dimungkiri pula, ada kontestasi antara Indonesia dan Malaysia dalam mempromosikan bahasa negara. Indonesia jelas menginginkan bahasa Indonesia untuk go international. Sementara itu, ada persaingan dari Negeri Jiran yang juga mempromosikan bahasa Melayu ke panggung dunia.

Untuk menjawab tantangan-tantangan di atas, Badan Bahasa memiliki tiga strategi, yaitu integrasi, konsistensi, dan strategi lompatan katak. Strategi ini Amin sebut sebagai Lingua Franca Plus. Integrasi yang dimaksud berupa penyatuan gerak langkah para aktor diplomasi bahasa, baik di bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi, dan politik. “Kita beli printer produk Thailand. Ada di situ tulisan aksara Thailand. Nah kita ingin melakukan itu. Gunakan bahasa Indonesia pada produk-produk Indonesia yang diekspor. Teman-teman di Kementerian Perdagangan setuju,” papar Prof. Amin.
 
Program-program yang diselenggarakan Badan Bahasa juga hendaknya dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Jangan sampai ada program yang sifatnya reaktif atas suatu isu. Kalau ada sebuah program dibuka, program itu wajib didampingi secara berkelanjutan dan jangan ditinggalkan begitu saja. “Jadi jangan hit and run,” tuntut pria asal Bandung ini.
Prof Amin juga menjelaskan strategi yang dinamai lompatan katak. Maksudnya, daripada hanya berkutat dengan usaha menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa tingkat regional di ASEAN mengingat ada kontestasi dengan bahasa Melayu dari Malaysia, lebih baik Badan Bahasa melompat lebih tinggi untuk menjangkau pentas dunia.

“Daripada bertengkar terus dengan Malaysia, saya katakan, kita bidik sekarang yang lebih luas. Maka, strategi lompatan katak, misalnya saya bicara dengan teman-teman di UNESCO,” kisah Prof. Amin.

 Pada tahun 2023 nanti, Indonesia ditunjuk menjadi co-organizer peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional yang jatuh setiap 21 Februari. Kesempatan ini akan dipakai Badan Bahasa untuk memperkenalkan bahasa Indonesia di panggung internasional. Selain itu, melalui UNESCO pula, Amin ingin menyampaikan bahwa pemilihan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah peristiwa penuh damai.

dok. SasIndo

“Saya katakan, perkenalkan Indonesia, perjuangan menjadikan bahasa Indonesia tanpa pertumpahan darah itu menjadi memory of the world. Nah ini kan bagian diplomasi. Jangan hanya berkutat saja di ASEAN. Maka lompatlah sekarang ke forum dunia,” sebut Amin.

Segala upaya yang dilakukan Badan Bahasa tentu memiliki hasil yang sudah dapat dilihat. Sampai saat ini sudah ada 430 lembaga di 51 negara yang menyelenggarakan program BIPA dengan 152 ribu pemelajar aktif. Jumlah penutur bahasa Indonesia di kawasan Amerika dan Eropa sudah mencapai 2 juta penutur, kawasan Asia Pasifik Afrika 2,4 juta, dan ASEAN sudah 5,2 juta.

Prof. Amin juga menceritakan baru-baru ini Badan Bahasa membuka satu kelas di Amerika dengan 221 murid baru dan akan ada kelas baru yang dibuka di Jerman, di Hamburg serta di Brussel, Belgia. Di Turki juga baru dibuka kelas baru untuk 400 orang. Bahkan di Tiongkok para pemelajarnya sudah memperlebar sayap dengan juga belajar bahasa Jawa dan bahasa Sunda. “Di Mesir kemarin ini saya dimintai menyediakan kelas untuk 900 orang. Saya katakan ini memang orang Mesir mau hijrah, gitu, ke Cianjur atau mau ke mana. Kok tiba-tiba besar sekali jumlahnya,” canda Prof. Amin.

(SCS)
 

  kembali