USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Siklus Kompresi Uap: Metode Baru dan Jitu Atasi Masalah Proses Pengeringan di Industri

diupdate: 5 bulan yang lalu





Sebagai wujud dari pelaksanaan Tridharma perguruan tinggi, tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Sanata Dharma melakukan implementasi hasil penelitian berupa penerapan siklus kompresi uap untuk peningkatan efisiensi berbagai produk industri. Kegiatan pengabdian ini mendapat bantuan dari pendanaan program penelitian kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan pengabdian berbasis hasil penelitian perguruan tinggi. Kegiatan PKM yang dilaksanakan pada tanggal 12-23 Desember 2021 ini dilakukan di dua mitra industri, yakni CV Nuansa Kayu Bekas yang memproduksi mebel kayu di Sragen dan PT Wira Cahya Pratama yang memproduksi blok pupuk di Klaten.

Kedua mitra industri tersebut selama ini mengalami masalah dalam proses pengeringan produk mereka. Hari Suprapto yang adalah Kepala Bagian Produksi CV. Nuansa Kayu Bekas menyampaikan bahwa proses pengeringan mebel kayu selama ini dilakukan menggunakan pemanas dengan bahan bakar kayu. Metode pengeringan yang dilakukan tersebut dirasa tidak efisien, boros bahan bakar, memerlukan waktu lama, tidak praktis/ribet, tidak ekonomis, tidak ramah lingkungan (polusi udara dan polusi suara) dan tidak aman karena berisiko terjadinya kebakaran,. seperti yang pernah dialami CV. Nuansa Kayu Bekas pada tahun 2019. Sementara Krisnoto Agoeng, penanggungjawab operasional pabrik di PT. Wira Cahya Pratama, Klaten menyampaikan bahwa proses pengeringan blok pupuk selama ini dilakukan dengan penjemuran langsung matahari. Proses pengeringan blok-pupuk dengan penjemuran matahari selain memerlukan lahan yang luas juga tidak gampang dilakukan di waktu musim hujan. Saat musim hujan produksi industri blok-pupuk menurun. Masalah pengeringan produk yang dialami kedua mitra menyebabkan produktivitas serta keuntungan yang rendah.

Kegiatan PKM yang dilakukan bertujuan meningkatkan produktivitas dan keuntungan industri dengan menerapkan metode pengeringan berbasis siklus kompresi uap yang lebih efektif dan efisien dari metode pengeringan yang selama ini digunakan di industri. Tim PKM diketuai oleh PK. Purwadi serta beranggotakan Rusdi Sambada, Iswanjono, Budi Sugiharto, Yosef Agung Cahyanta, dan Wibowo Kusbandono. Kegiatan PKM meliputi pengenalan mesin pengering berbasis siklus kompresi uap yang meliputi penjelasan cara kerja, pembuatan, penerapan, pengoperasian dan perawatan mesin pengering yang efektif untuk industri mebel-kayu dan industri blok-pupuk. Selain itu juga dilakukan pendampingan dalam pembuatan, penerapan, pengoperasian dan perawatan mesin pengering.

Purwadi sebagai ketua tim pengabdian sekaligus penemu dari metode baru pengeringan yang diterapkan di kedua mitra industi mengatakan bahwa metode pengeringan baru yang diterapkan bekerja dengan prinsip pengeringan yang berbeda dengan prinsip pengeringan yang umumnya digunakan di industri. Prinsip pengeringan baru yang diterapkan adalah menurunkan kelembapan udara dengan mengalirkan udara melewati evaporator. Udara yang melewati evaporator akan mengalami pengembunan sehingga kelembapan udara akan turun secara signifikan. Air hasil pengembunan ditampung dalam bak penampung air. Udara yang kering dari evaporator akan dialirkan kedalam kondensor sehingga suhu udara meningkat. Udara yang kering dengan suhu yang meningkat kemudian dialirkan kedalam produk yang dikeringkan seperti kayu, blok pupuk atau produk industri lainnya.

Keberhasilan kegiatan PKM di dua mitra industri ini tercermin dari komentar yang disampaikan. “Kita mempunyai dua sistem pengering, yang lama menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu dan yang baru menggunakan sistem kompresi uap. Pada mesin menggering dengan bahan bakar kayu, ruangan menjadi panas sekali (sekitar 70 derajat Celcius), lembab, banyak jelada, dan sering kali kayu mengalami pecah-pecah serta pengeringan kayu tidak merata. Sedangkan dengan pengeringan yang baru ini ruangan lebih bersih, tidak pengab, udara tidak terlalu panas (sekitar 30 derajat Celcius), dan hasil pengeringan lebih cepat. Jika yang dulu pengeringannya bisa lama sampai 12 sampai 22 hari, tapi dengan yang baru hanya sekitar 3 hari. Kayu juga tidak pecah atau rusak”. Demikian kesaksian karyawan bagian proses di CV. Nuansa Kayu Bekas.

Sementara Krisnoto Agoeng dari PT. Wira Cahya Pratama, Klaten mengatakan “Kami memproduksi blok pupuk, kesulitannya adalah masalah pengeringan. Dulu kami mengeringkan dengan panas matahari, tetapi sering terkendala cuaca, sehingga kering tidak maksimal. Kemudian kita coba dengan gas tetapi keringnya juga kurang maksimal, kemudian kami mencoba lampu pijar. Tetapi hasil pengeringannya bisa kering namun bisa keras. Kemudian kami berusaha lagi dengan berkonsultasi dengan tim Universitas Sanata Dharma dengan sistem siklus kompresi uap. Ternyata keringnya dapat sesuai yang kami harapkan dan lebih cepat”. Ke depannya metode pengeringan ini akan terus diteliti, dikembangkan, dan disempurnakan agar dapat lebih menyelesaikan masalah di masyarakat industri yang mengalami kesulitan dalam pengeringan hasil produksinya.

(FRS)

  kembali