USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dialog Lintas Iman: “Peran dan Kedudukan Perempuan”

diupdate: 3 minggu yang lalu




Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (19/9) menyelenggarakan Dialog Lintas Iman (DLI) yang merupakan salah satu kegiatan rutin tahunan Fakultas Psikologi USD. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Divisi Sosial dan Rohani Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi USD. Penyelenggaraan kegiatan pada tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. DLI yang bertema“Peran dan Kedudukan Perempuan” ini dilaksanakan secara virtual menggunakan platform Zoom.

Narasumber DLI merupakan perwakilan dari enam agama yang ada di Indonesia yaitu (1) Dr. Inayah Rohmaniyah S.Ag, M.Hum, MA selaku Dosen Fakultas Ushuluddin dan pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (2)  Bhikkhu Ditthisampanno Thera selaku dosen di STIAB Smaratungga, (3) Magdalena Bheti Krisindawati, S.I.Kom selaku presenter di “Pijar Kristen” TVRI dan dosen di STIKOM Yogyakarta, (4) Mujiah S. Pd selaku penyuluh agama Hindu, (5) Aristya Angga Susanto sebagai ketua Pemuda Agama Khonghucu Indonesia (PAKI) daerah Surakarta dan ketua dewan perwakilan wilayah PAKI Jawa Tengah , dan (6) Romo Mutiara Andalas, SJ, SS, STD selaku dosen Pendidikan Keagamaan Katolik USD. Sesuai dengan temaDLI tahun ini, panitia DLI juga mengundang narasumber dari koordinator umum Womens’s March yakni Athallah Fachryzal Rafardhanu.

Perempuan menjadi fokus utama dalam dialog tersebut. Dalam stereotype masyarakat jawa, perempuan selalu dipandang sebelah mata, di mana perempuan itu hanya memiliki peran masak, macak (dandan), dan manak (mengurus anak). Perempuan juga tidak boleh bekerja melainkan harus di rumah saja mengurus rumah, melayani suami dan anak. Persepsi masyarakat terhadap perempuan seperti itu membawa berbagai pandangan mengenai peran dan kedudukan masyarakat dari berbagai agama.

Sesungguhnya perempuan memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dan dapat disama ratakan dengan gender laki-laki. Menurut pandangan agama Kristen yaitu perempuan itu digambarkan sebagai seorang penolong yang tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun. Selain itu, perempuan memiliki keunikan dimana dapat melakukan pekerjaan dengan waktu berbarengan. Perempuan juga memiliki keaktifan, kreatif, dan inovatif. Semua orang memiliki derajat yang sama. Pandangan bagi agama Islam yaitu menurut Alquran perempuan dan laki-laki itu sederajat dan dalam ranah sosial perempuan dan laki-laki memiliki kesamaan, sama-sama dapat sukses dan menjadi pemimpin. Kemudian kesamaan lainnya adalah tugas di dalam masyarakat dimana sama-sama menjadi dakwah menyebarkan kebaikan kepada orang lain. Pembedanya hanya saja kepercayaan kepada Tuhan itu sendiri. Perempuan menurut agama Hindu yakni perempuan itu diartikan mensucikan diri dimana perempuan dapat mensucikan diri sendiri. Perempuan diperhatikan karena sangat penting dan memiliki keunikan yang dapat melahirkan seorang anak. Dimana agama Hindu masih mempercayai adanya reinkarnasi dari kehidupan sebelumnya. Dalam agama hindu perempuan sendiri tidak pernah dibedakan dan sosok yang sangat dimuliakan. Kedudukan perempuan adalah setara dengan laki-laki. Kemudian, Agama Konghucu memandang perempuan bahwa memiliki kesetaraan dengan laki-laki, di mana tidak ada ayat yang merendahkan perempuan maupun meninggikan laki-laki. pandangan dari agama Budha yakni tidak pernah membeda-bedakan perempuan, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam spiritualitas. Kuat lemahnya, kasar atau halusnya itu dipengaruhi oleh orang itu sendiri. Iman Katolik juga melihat peran dan kedudukan perempuan setara dengan laki-laki. Pada dasarnya manusia itu adalah cerminan dari Allah sendiri.

Agnes Indar Etikawati M.Si., Psikolog selaku moderator dalam kegiatan tersebut memberikan kesimpulan bahwa pandangan masyarakat itu adalah ajaran atau konstruk patriarki dari budaya itu sendiri, jadi bukanlah dari ajaran agama yang ada. Dengan begitu masyarakat perlu memiliki kesadaran mengenai apa yang terjadi pada kesetaraan gender, sehingga masyarakat dapat lebih mengerti dan memiliki pandangan yang terbuka tentang kesetaraan gender. Kemudian, diperlukannya menggunakan media yang ada saat ini untuk menyuarakan gagasan untuk lebih menghargai perempuan.

(KTI & BGP)

  kembali