USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Tanggapi Karhutla, PBIO USD Gelar Seminar Bersama Badan Restorasi Gambut Indonesia

diupdate: 1 minggu yang lalu



Menanggapi fakta-fakta faktual yang terjadi belakangan ini, khususnya terkait karhutla (kebakaran hutan dan lahan) yang sedang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu (21/9) menggelar seminar bersama Badan Restorasi Gambut Indonesia. Bertempat di Ruang Seminar Driyarkara USD, seminar ini juga dalam rangkaian acara Dies Natalis Pendidikan Biologi ke XI.

Pembicara dalam seminar ini adalah dari Badan Restorasi Gambut dan dari Youth For Peatland. Badan Restorasi Gambut (BRG) adalah lembaga non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRG dibentuk guna mengkoordinasi dan memfasilitasi restorasi gambut di 7 provinsi: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Sedangkan Youth For Peatland adalah komunitas pemuda-pemudi peduli gambut dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegiatan seminar yang disponsori oleh Australia Global Alumni dan mengangkat tema “Restorasi Gambut dalam Menjaga Keseimbangan Alam” ini diikuti oleh 201 peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis lingkungan, serta ibu rumah tangga. Domisili peserta seminar tersebar dari berbagai daerah di Yogyakarta, dan Bandung. Selain itu, ada pula mahasiswa dari National University of Singapore yang terbang ke Yogyakarta untuk mengikuti rangkaian kegiatan seminar. Mahasiswa tersebut sedang dalam proses penelitian dalam rangka penyelesaian gelar masternya.

Pada sesi pertama yang dipandu oleh Moderator Erita Christin, Prof. Alue Dohong selaku Deputi 2 BRG mengungkapkan bahwa kejadian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Gambut merupakan harta Indonesia dengan beragam manfaat yang mungkin tidak semua orang menyadarinya. Maka dari itu beliau berkata, “Generasi muda perlu mulai membangun kesadaran dan merubah mindset untuk tidak menyerah dengan keadaan yang ada. Tetapi sebaliknya, terus berusaha untuk membangun kesadaran agar pemantauan dan pemanfaatan gambut mengalami perbaikan dari waktu ke waktu”. Beliau juga menjelaskan permasalahan kebakaran di lahan gambut merupakan hal yang butuh penanganan ekstra, menguras energi serta biaya yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, peran semua pihak sangat dibutuhkan agar bukan bencana yang rutin terjadi, namun sebaliknya, pemanfaatan secara bertanggungjawab yang mensejahterakan bangsa Indonesia yang berkesinambungan dengan alam. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah merestorasi gambut. Sesi pertama diakhiri dengan sesi tanya jawab yang penuh antusias selama 40 menit.

Pada sesi kedua yang merupakan sesi Sharing and Roadshow, ada 7 pembicara yang merupakan kumpulan pemuda pemudi dari berbagai daerah yang tergabung dalam Youth For Peatland (YFP) binaan BRG, yang di dampingi seorang penanggungjawab, Bapak Lubendik. Sesi ini dipandu oleh Moderator Scholastica Susanti, seorang mahasiswi Pendidikan Biologi USD yang juga anggota Youth For Peatland. Sesi kedua ini dibawakan lebih santai dan bernuansa kekinian dengan pembicaraan sharing pengalaman  dan diskusi terkait gambut yang dibawakan oleh Zulfi Rima (Kehutanan UGM), Ferdinandus Wisnu (Teknik Sipil UAJY), Jelly Amalia (S2 Ilmu Tanah UGM), Cestakara Webe (Penginderaan Jarak Jauh UGM), Andika Shafar (NGO), Yoga Aprillianno (NGO) dan Scholastica Susanti (Pendidikan Biologi USD). Sharing kegiatan terkait  gambut diawali dengan menceritakan kembali kegiatan seminggu bersama gambut di Jakarta dan di Kalimantan Tengah yang dikemas melalui video dan foto-foto kegiatan. Diisi dengan mengulas peran pemuda-pemudi di jaman yang serba teknologi, dan ditutup dengan pengumuman pemenang challenge #EmoteUntukGambut di instagram @youth_for_peatland, pengisian survei dan sesi tanya jawab. Pemuda Pemudi Indonesia, Ayo Jaga Gambut!

(SS & BG)

  kembali