
Di tengah megahnya kota Maastricht, Belanda, mahasiswi Sastra Inggris, Universitas Sanata Dharma berdiri di antara ratusan peserta internasional yang datang dari berbagai negara. Ruangan itu dipenuhi mahasiswa dengan kemampuan diplomasi yang mumpuni, kemampuan berbahasa Inggris yang fasih, serta wawasan geopolitik yang luas. Di tengah suasana kompetitif tersebut, Rebecca Raphael Angelica Simorangkir atau yang akrab disapa Rebecca harus menghadapi tantangan terbesar dalam hidupnya: mempercayai dirinya sendiri.
Mahasiswi angkatan 2022 itu menjadi salah satu dari sepuluh mahasiswa Indonesia yang terpilih mengikuti program International Exposure Djarum Beasiswa Plus dan berpartisipasi dalam EUROMun (European Model United Nations) 2026 di Maastricht, Belanda. Tidak hanya berhasil mewakili Indonesia, Rebecca bahkan membawa pulang penghargaan tertinggi dalam komitenya sebagai Best Delegate, sebuah pencapaian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perjalanan Panjang Menuju Maastricht
Perjalanan Panjang Menuju Maastricht
Keberangkatan Rebecca ke Belanda bukanlah hasil yang datang secara instan. Sebelum menginjakkan kaki di Eropa, ia harus melewati proses seleksi yang ketat bersama ratusan mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus dari seluruh Indonesia.
Sebanyak 534 mahasiswa mengikuti seleksi untuk program International Exposure tersebut. Para peserta harus melalui berbagai tahapan, mulai dari tes kemampuan bahasa Inggris, seleksi CV, hingga penulisan esai yang menjelaskan alasan mereka layak mengikuti EUROMun. Dari ratusan peserta tersebut, hanya sepuluh orang yang akhirnya dipilih untuk mewakili Indonesia.
"Buat saya, itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Dari dulu saya memang ingin mengikuti kompetisi di luar negeri karena saya tertarik dengan isu hubungan internasional dan geopolitik," ungkap Rebecca.
Ketika pengumuman kelulusan dikirimkan melalui surat elektronik, perasaannya bercampur aduk antara bahagia, bangga, dan tidak percaya. Di antara nama-nama yang lolos, Rebecca menjadi satu-satunya peserta yang berasal dari Yogyakarta. Namun, lolos seleksi hanyalah awal dari perjalanan yang lebih menantang.
Belajar Dunia Diplomasi dari Nol
Belajar Dunia Diplomasi dari Nol
Meski memiliki ketertarikan terhadap isu internasional, Rebecca mengakui bahwa dirinya bukan berasal dari latar belakang Hubungan Internasional. Sebagai mahasiswa Sastra Inggris, ia harus mempelajari banyak hal dari awal agar mampu bersaing di forum diplomasi internasional.
Sebelum berangkat ke Belanda, seluruh peserta mengikuti sekitar 20 kali pelatihan intensif. Dalam pelatihan tersebut, mereka tidak hanya mempelajari tata cara sidang Model United Nations, tetapi juga strategi diplomasi, negosiasi, penyusunan mosi, hingga simulasi debat internasional.
Tantangan semakin besar karena pada saat yang bersamaan, Rebecca sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kulon Progo. Ia harus bolak-balik Yogyakarta dan Jakarta untuk mengikuti pelatihan yang seluruh biayanya ditanggung oleh program Djarum Beasiswa Plus. Meski melelahkan, masa persiapan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya.
Ia masih mengingat bagaimana dirinya harus belajar memahami dunia hubungan internasional dari nol. Bahkan, simulasi yang dilakukan menjelang keberangkatan menjadi pengalaman yang sangat menegangkan. Dalam simulasi tersebut, para alumni peserta kompetisi internasional hadir sebagai lawan debat.
Menurut Rebecca, simulasi tersebut justru terasa lebih sulit dibandingkan kompetisi yang sesungguhnya. "Mereka sudah pernah merasakan bagaimana kompetisi internasional berlangsung. Ada yang menjadi lawan yang sangat kritis, ada yang terlihat ramah tetapi ternyata punya strategi lain. Dari situ mental saya benar-benar diuji," kenangnya.
Bahkan setelah salah satu simulasi berakhir, Rebecca sempat merasa ragu terhadap kemampuannya sendiri dan mempertanyakan apakah dirinya benar-benar siap menghadapi kompetisi internasional.
Ketika Rasa Minder Muncul di Negeri Orang
Ketika Rasa Minder Muncul di Negeri Orang

Setibanya di Belanda, tantangan baru kembali muncul. Hari pertama kompetisi diisi dengan registrasi dan sesi perkenalan antar peserta. Momen inilah yang membuat Rebecca mulai merasakan apa yang ia sebut sebagai Inferiority Complex atau rasa rendah diri.
Di sekelilingnya berdiri mahasiswa-mahasiswa dari Eropa dan Amerika yang memiliki postur tinggi, kemampuan berbicara yang sangat baik, serta kepercayaan diri yang kuat. Dalam komite yang diikutinya, Rebecca bahkan tidak menemukan peserta lain yang berasal dari Asia.
"Saya merasa sangat kecil waktu itu. Mereka tinggi-tinggi, berbicaranya lancar sekali, dan terlihat sangat pintar. Saya sempat takut," ujarnya.
Perasaan tersebut diperkuat oleh stereotip yang sering muncul di masyarakat bahwa mahasiswa dari negara-negara Barat selalu lebih unggul. Namun, seiring berjalannya kompetisi, Rebecca mulai menyadari bahwa setiap peserta memiliki tantangan dan ketakutan masing-masing. Ia belajar bahwa rasa minder hanya dapat diatasi dengan keberanian untuk tetap melangkah.
Mewakili Inggris dalam Isu Nuklir Iran
Mewakili Inggris dalam Isu Nuklir Iran
Dalam EUROMun 2026, Rebecca mendapat tugas sebagai delegasi Inggris (United Kingdom) untuk membahas isu internasional bertajuk The Future of Iran Nuclear Deal.
Topik tersebut merupakan salah satu isu geopolitik yang kompleks karena melibatkan berbagai kepentingan negara besar dan keamanan internasional. Sebagai delegasi Inggris, Rebecca harus memahami posisi negaranya, mempertahankan kepentingan yang diwakili, sekaligus membangun kerja sama dengan negara-negara lain.
Selama tiga hari kompetisi berlangsung, suasana sidang berlangsung sangat intens. Para delegasi saling berdebat, menyusun strategi, membentuk koalisi, hingga bernegosiasi untuk mempertahankan kepentingan masing-masing. Rebecca bahkan sempat menghadapi situasi yang tidak terduga ketika beberapa delegasi berupaya membentuk blok yang berseberangan dengan posisi Inggris.
"Saya sempat diberi tahu bahwa ada yang ingin membentuk blok anti-UK. Awalnya saya bingung karena merasa tidak melakukan apa-apa. Tapi kemudian saya sadar bahwa itulah bagian dari diplomasi," katanya.
Dalam situasi tersebut, ia tidak memilih untuk melawan dengan konfrontasi. Sebaliknya, Rebecca mencoba membangun komunikasi yang lebih personal dengan peserta lain. Ia memanfaatkan hari pertama kompetisi untuk mengenal karakter peserta dari berbagai negara sehingga lebih mudah membangun relasi saat diskusi berlangsung. Menurutnya, kemampuan terpenting dalam forum internasional bukan hanya berbicara atau berdebat, melainkan kemampuan beradaptasi.
"Saya belajar bahwa kita harus cepat memahami budaya orang lain. Setelah bisa beradaptasi, baru kita bisa bernegosiasi dan menyampaikan ide dengan baik," jelasnya.
Bekal dari Perkuliahan
Bekal dari Perkuliahan
Meski berasal dari Program Studi Sastra Inggris, Rebecca merasa banyak hal yang dipelajarinya di kampus justru menjadi bekal penting selama mengikuti kompetisi internasional.
Mata kuliah Public Speaking dan Public Relations membantunya menyampaikan gagasan secara jelas dan terstruktur. Sementara itu, mata kuliah Formasi Cerdas Humanis (FCH) memberinya kemampuan untuk berpikir kritis sekaligus memahami perspektif orang lain.
Baginya, FCH tidak hanya mengajarkan cara berpikir, tetapi juga mengajarkan refleksi diri dan nilai kemanusiaan dalam melihat sebuah persoalan. Nilai-nilai tersebut ternyata sangat relevan ketika harus berdiplomasi dengan peserta dari berbagai latar belakang budaya dan pandangan politik.
Setelah tiga hari penuh ketegangan, seluruh peserta akhirnya berkumpul dalam acara penutupan untuk mendengarkan pengumuman pemenang. Rebecca mengaku sama sekali tidak memiliki ekspektasi untuk meraih penghargaan tertinggi. Ia merasa semua peserta dalam komitenya memiliki kemampuan yang luar biasa dan sangat kompetitif.
Ketika nama para pemenang mulai dipanggil satu per satu, rasa gugupnya semakin sulit disembunyikan. Teman-temannya bahkan terus berusaha menenangkannya. Hingga akhirnya, namanya diumumkan sebagai Best Delegate.
Saat itu, Rebecca hanya bisa terdiam sejenak sebelum perasaan haru dan bahagia datang secara bersamaan. Bersama sembilan delegasi Indonesia lainnya, ia merayakan pencapaian tersebut dengan penuh sukacita. Orang pertama yang ia kabari adalah kedua orang tuanya. Selama kompetisi berlangsung, Rebecca selalu meminta doa kepada keluarganya karena perbedaan waktu antara Belanda dan Indonesia memungkinkan mereka tetap berkomunikasi sebelum kompetisi dimulai setiap hari.
Melawan Diri Sendiri
Melawan Diri Sendiri

Di balik penghargaan yang berhasil diraih, Rebecca merasa bahwa kemenangan terbesarnya bukanlah medali ataupun gelar Best Delegate. Bagi dirinya, pencapaian tersebut merupakan bukti bahwa ia mampu mengalahkan rasa takut yang selama ini membatasi langkahnya.
Ia mengakui bahwa dirinya adalah pribadi yang sering khawatir terhadap kegagalan dan takut menghadapi hal-hal baru. Namun pengalaman di EUROMun mengajarkannya bahwa pertumbuhan hanya bisa terjadi ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman.
"Melawan orang lain itu gampang, tetapi melawan diri sendiri itu sulit," ujarnya.
Pengalaman di Maastricht menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Rebecca. Dari seorang mahasiswi Sastra Inggris yang harus belajar diplomasi dari nol, ia berhasil membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba seringkali lebih penting daripada rasa takut untuk gagal. Kini, setelah kembali ke Indonesia, Rebecca membawa pesan sederhana bagi mahasiswa lain yang masih ragu melangkah.
"Jangan terus berada di tempat yang nyaman. Berani mencoba hal baru, berani beradaptasi, dan jangan takut memulai dari nol. Karena sering kali, hal-hal besar justru dimulai ketika kita keluar dari zona nyaman." Bagi Rebecca, Maastricht bukan hanya tentang kompetisi internasional. Kota itu menjadi saksi perjalanan seorang mahasiswa yang berhasil menemukan keberanian untuk melampaui batas yang selama ini ia ciptakan sendiri.
Jean Pierre - Humas
Jean Pierre - Humas




