USD Akreditasi A Alumni Email USD

Bukan Sekadar Teriakan "Merdeka!" : Civitas Academica USD Merefleksikan 80 tahun Republik Indonesia



"Selama ada api yang membara,
jangan sampai itu menjadi abu di antara tumpukan kayu."
 
Irvine, mahasiswa Fakultas Psikologi USD, melontarkan metafora puitis ini ketika ditanya soal harapannya untuk Indonesia di usia 80 tahun. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar warisan sejarah yang tinggal dirayakan setiap 17 Agustus.
 
"Secara pribadi, saya sering memperbincangkan segala sesuatu yang terjadi di negara ini dalam lingkup pertemanan atau keluarga," katanya. "Tidak bisa dipungkiri jika keadaan negara kita akhir-akhir ini mempertanyakan kembali apa arti kemerdekaan itu."
 
Di kampus Universitas Sanata Dharma, diskusi soal kemerdekaan tak lagi berkutat pada hafalan sejarah atau yel-yel nasionalisme. Generasi muda di sini punya cara baca sendiri: kemerdekaan bukan tentang seberapa lantang berteriak "Merdeka!", tapi seberapa nyata kontribusi yang diberikan untuk bangsa ini.
 
Bagi sebagian besar mahasiswa USD, kemerdekaan berarti ruang untuk beropini dan berekspresi—tentu saja dalam koridor konstitusi. Definisi yang sederhana, tapi mengena di era di mana kebebasan berpendapat kerap dipertanyakan.
 
80 Tahun Merdeka, Tapi Apa Kabar Demokrasi?
 
Perayaan kemerdekaan ke-80 tahun ini datang di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang tidak biasa-biasa saja. Dari fenomena pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk protes, hingga demonstrasi besar-besaran di Pati yang melawan arogansi pemerintahan daerah—semua jadi pertanyaan besar bagi generasi muda: "Benarkah Indonesia sungguh sudah merdeka?"

Pengibaran Bendera One Piece (sumber: Berita Satu)
 
Gema, mahasiswa USD yang ikut menyaksikan dinamika politik belakangan, punya pandangan tajam soal ini. "Saya melihat bahwa dinamika bangsa Indonesia dalam menyambut 80 tahun kemerdekaannya ini cukup mengejutkan," katanya.
 
"Saya merasa bahwa pemerintah sedang bereksperimen dengan rakyat, mengeluarkan berbagai kebijakan dalam waktu singkat dan pengambilan keputusan yang terkesan disegerakan. Menurut saya itu perlu direfleksikan."
 
Kritik yang cukup berani dari seorang mahasiswa. Tapi itulah yang membedakan generasi ini: mereka tidak segan mempertanyakan otoritas, bahkan dalam momen nasional sekaliber HUT RI. Bagi mereka, sikap kritis justru menunjukkan rasa cinta yang sejati terhadap bangsa.
 
Para mahasiswa USD berharap keadilan bisa ditegakkan dan kepercayaan antara pemerintah dengan rakyat bisa terbangun kembali. Mereka menginginkan sistem pemerintahan yang lebih bersih untuk menghindari kehancuran yang ditakutkan jika kondisi saat ini terus berlanjut.
 
Kemerdekaan Sebagai Proses Berkelanjutan
 
Pandangan kritis mahasiswa ini mendapat resonansi kuat dari para dosen mereka. Albertus Harimurti—akrab disapa Mas Ucil—dosen Fakultas Psikologi USD, bahkan lebih tegas dalam mempertanyakan makna kemerdekaan hari ini.
 
"Merdeka dari apa, untuk apa, dan siapa?" tanya Mas Ucil menohok.
 
Bagi dosen yang dikenal kritis ini, peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia bukan pesta nostalgia. "Ini bukan sekadar perayaan 17 Agustus bagi bangsa dan negara kita, melainkan sebuah proses yang harus terus-menerus dinegosiasikan serta dibayangkan," tegasnya.

Penarikan Mahasiswa KKN Angkatan 70 (dok. Humas)
 
Mas Ucil membedakan kemerdekaan dalam dua pengertian: "Kemerdekaan dalam pengertian formal—bebas dari penjajah—sudah kita capai. Tapi kemerdekaan substantif? Yang bebas dari penderitaan dan ketimpangan sosial? Nah, ini yang masih jadi PR besar."
 
Sebagai akademisi, Mas Ucil mengekspresikan makna kemerdekaannya dengan tetap bersikap terbuka, penuh rasa ingin tahu, dan berpikir kritis terhadap segala yang terjadi di negara ini.
 
Brigida Intan Printina, dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP USD, melihat momentum berbeda dalam peringatan kemerdekaan tahun ini dari kacamata seorang sejarawan. 
 
"Bagi saya, kemerdekaan ialah mandiri dan berdaulat. Masyarakat dapat memperjuangkan kehidupannya dengan terus berdikari dalam semangat persatuan dan kedaulatan budaya yang seharusnya menjadi kekayaan bersama dapat berkembang di tengah dinamika dan tantangan yang masih ditemukan dalam berbagai bidang," jelasnya.
 
Bu Intan—begitu ia akrab disapa—melihat perjalanan 80 tahun ini sebagai rangkaian transformasi besar. "Perjalanan ini bukan hanya tentang memori perjuangan fisik, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini berupaya menemukan identitas, membangun pondasi, dan beradaptasi dengan dinamika global."
 
Sebagai pendidik sejarah, Bu Intan mengekspresikan makna kemerdekaan melalui cara unik: membagikan konten kebangsaan di media sosial. Dari filosofi sejarah budaya bangsa, situs bersejarah Nusantara, hingga lagu daerah, semuanya jadi medium untuk menghidupkan semangat nasionalisme generasi digital.
 
Imajinasi Baru untuk Indonesia
 
Mas Ucil punya pandangan yang lebih radikal soal kemerdekaan hari ini. "Bagi saya, 80 tahun Indonesia merdeka ini seharusnya bukan hanya sekadar pesta perayaan, tapi mengundang kita untuk bertanya apa artinya merdeka hari ini."
 
Menurutnya, bangsa besar bukan cuma yang mengingat perjuangan pendahulunya, tapi yang "berani memperjuangkan imajinasi baru—meski imajinasi baru ini sama dengan mengkritik dirinya sendiri."

Swafoto Rektor USD bersama para mahasiswa dalam Dies Natalis ke-68 (dok. Humas)
 
Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan terbesar Indonesia saat ini: bukan sekadar masalah teknis seperti infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi, tapi soal imajinasi politik. Kesenjangan sosial dan buruknya hubungan kepercayaan antara pemerintah dengan masyarakat jadi PR utama di berbagai daerah.
 
Baik mahasiswa maupun dosen USD paham betul bahwa kemerdekaan bukan hasil final, tapi proses berkelanjutan yang butuh keberanian untuk terus bertanya dan mengkritisi.
 
Di tengah segala keresahan, generasi muda dan para pendidik USD masih menyimpan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Apalagi dengan semakin dekatnya perayaan 100 tahun Indonesia merdeka yang digadang-gadang akan menjadi "masa emas" negara ini.
 
Mas Ucil berharap imajinasi kebangsaan Indonesia bisa lebih inklusif dan progresif. "Saya berharap soal imajinasi kebangsaan agar berani melampaui masa lalu dan hendaknya kemerdekaan ini bukan menjadi akhir atau titik puncak dari imajinasi negara-bangsa yang bernama Indonesia ini, tetapi menjadi titik keberangkatan baru."
 
Lebih jauh, ia menginginkan Indonesia yang "berani membayangkan dirinya menjadi lebih adil, terbuka, dan menjadi milik semua orang yang memanggilnya sebuah rumah."
 
Bu Intan punya harapan praktis: ketegasan pemerintah mengutamakan kebenaran dan kepentingan rakyat. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari perilaku FOMO (fear of missing out) dan berita provokatif yang bisa memecah belah.

Merajut Harapan, Melanjutkan Perjuangan 
 
Harapan mahasiswa dan dosen ini sejalan: mereka sama-sama menginginkan Indonesia yang lebih adil, terbuka, dan demokratis. Sebuah Indonesia di mana kemerdekaan bukan hanya slogan, tapi kenyataan yang bisa dirasakan semua warga negara.

Program Organisasi Penggerak yang dilaksanakan Yayasan Sanata Dharma di Papua (dok. Tim POP USD)
 
Dari diskusi dengan mahasiswa dan dosen USD, satu hal jadi jelas: kemerdekaan bukan warisan yang tinggal dinikmati, tapi amanah yang harus terus diperjuangkan. Generasi muda hari ini tidak cukup dengan sekadar mengenang jasa pahlawan atau bernostalgia dengan masa lalu.
 
Mereka—baik mahasiswa maupun dosen—menuntut kemerdekaan yang lebih substantif: kemerdekaan dari kemiskinan, ketidakadilan, dan sistem yang korup. Kemerdekaan untuk berkreasi, berinovasi, dan mengkritisi tanpa takut.
 
Perspektif mahasiswa yang kritis ternyata mendapat dukungan penuh dari para pendidik mereka. Ini menunjukkan bahwa sikap mempertanyakan dan mengkritisi kondisi bangsa bukan tanda ketidakcintaan, melainkan bentuk kepedulian yang mendalam.
 
Di usia 80 tahun, Indonesia masih belajar menjadi benar-benar merdeka. Dan civitas academica USD—dari mahasiswa hingga dosen—siap menjadi bagian dari proses pembelajaran itu dengan segala pertanyaan kritis dan harapan besarnya.
 
---
 
Penulis: Pascalista Nariswari Dharmaningtyas Nugrahadianti
Editor: Antonius Febri Harsanto 

  kembali