Tanggal 31 Juli selalu menjadi hari istimewa bagi komunitas Jesuit di seluruh dunia. Pada hari itu, Gereja Katolik merayakan Pesta Santo Ignasius Loyola, pendiri Serikat Yesus (Jesuit), yang ajarannya telah melahirkan banyak karya besar di berbagai bidang, termasuk pendidikan.
Bagi Universitas Sanata Dharma (USD) – satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia – momen ini bukan sekadar perayaan. Lebih dari itu, hari tersebut menjadi pengingat akan panggilan USD, yaitu menghadirkan pendidikan yang menumbuhkan manusia seutuhnya di tengah dunia yang terus berubah.
“Semangat Ignasius itu mengajak kita untuk selalu mencari cara kreatif agar pendidikan tetap relevan. Itulah yang sedang kita terus uapayakan di USD,” ujar Rektor USD, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D.
Tiga Pesan dari Bogota
Dalam sambutan pembukanya, Pater General Arturo Sosa SJ, menyampaikan pentingnya universitas jesuit bertindak dialogis dan kreatif.
"Universitas Jesuit harus menjadi kehadiran yang kreatif dan dialogis, berakar pada identitas yang mengalir dari karisma kita."
Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam pertemuan ini adalah tentang human flourishing – perkembangan manusiawi secara holistik. Menurut Romo Bagus, konsep ini menjadi jawaban terhadap tantangan sekularisme, pemisahan yang kian tajam antara pendidikan dan dimensi spiritual.

“USD sendiri telah bekerjasama dengan Australian Catholic University (ACU) dan Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan human flourishing ini lewat berbagai inisiatif tridharma,” jelasnya.
Sebagai universitas Jesuit, human flourishing yang dihidupi USD tidak dapat dipisahkan dari semangat Ignasian. Hal ini juga ditegaskan oleh Dr. Lucianus Suharjanto, S.J., S.T.B., M.A., Kepala Sekretariat Mission and Identity (SMI) USD. Dari pertemuan Bogota, ada tiga pesan yang menurutnya sangat relevan untuk perguruan tinggi Jesuit, termasuk USD.
Pesan pertama adalah tentang kehadiran kreatif. Ia menggambarkannya sebagai sikap menyambut setiap perkembangan zaman dengan keterbukaan, bukan ketakutan. Kreativitas, katanya, adalah cara kita membaca tanda-tanda zaman sekaligus menemukan kehadiran Tuhan dalam hal-hal baru yang diciptakan manusia.
“Sejak berdiri sebagai institut keguruan pada tahun 1955 hingga berkembang menjadi universitas, Sanata Dharma selalu belajar dari perubahan, membaca kebutuhan masyarakat, dan menanggapinya dengan cara yang kreatif,” jelasnya.
“Sejak berdiri sebagai institut keguruan pada tahun 1955 hingga berkembang menjadi universitas, Sanata Dharma selalu belajar dari perubahan, membaca kebutuhan masyarakat, dan menanggapinya dengan cara yang kreatif,” jelasnya.
Pesan kedua berkaitan dengan solidaritas. Pertemuan di Bogota menggarisbawahi pentingnya memperjuangkan relasi yang manusiawi, menghargai martabat setiap orang, serta berkomitmen menciptakan kebaikan bersama.
Di USD, nilai ini terwujud dalam berbagai upaya untuk menjamin akses pendidikan, seperti pembentukan Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM), serta pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengajak mahasiswa turun langsung ke masyarakat.
“Solidaritas mengajak kita untuk tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga terlibat aktif memperjuangkan keadilan,” kata Romo Suharjanto.
Di USD, nilai ini terwujud dalam berbagai upaya untuk menjamin akses pendidikan, seperti pembentukan Lembaga Kesejahteraan Mahasiswa (LKM), serta pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang mengajak mahasiswa turun langsung ke masyarakat.
“Solidaritas mengajak kita untuk tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga terlibat aktif memperjuangkan keadilan,” kata Romo Suharjanto.
Pesan ketiga adalah tentang dialog. Ia menekankan bahwa dialog bukan sekadar berbicara, melainkan kemampuan mendengarkan dengan hati dan mengembangkan sikap apresiatif. Bagi perguruan tinggi, dialog berarti membuka ruang perjumpaan yang nyata antara dosen, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat.
Bahkan dalam kegiatan akademik, komitmen ini diterjemahkan ke dalam kehadiran aktif minimal 75 persen di perkuliahan, yang bukan hanya soal absensi, tetapi tentang kesediaan hadir, mendengarkan, dan saling memahami.
Bahkan dalam kegiatan akademik, komitmen ini diterjemahkan ke dalam kehadiran aktif minimal 75 persen di perkuliahan, yang bukan hanya soal absensi, tetapi tentang kesediaan hadir, mendengarkan, dan saling memahami.
“Model dari setiap pertemuan dan dokumen yang dihasilkan bukanlah instruksi yang harus dilaksanakan begitu saja. Semua ini adalah bahan percakapan dan refleksi, agar kita terinspirasi terlebih dahulu sebelum melangkah," tegas Romo Suharjanto.
Membentuk Mahasiswa Cerdas Humanis
Nilai-nilai Ignasian itu menemukan wujud nyata dalam berbagai program pengembangan mahasiswa. Di USD, Pusat Studi Ignasian (PSI), SMI dan Campus Ministry (CM) menjadi motor penggerak implementasi pedagogi Ignasian, memastikan semangat ini hadir, mulai dari wilayah kebijakan hingga ke aktivitas di tingkat akar rumput; dari dinamik di wilayah akademik dan tridharma, hingga ke dalam praktik hidup sehari-hari seluruh civitas academica.
Nilai-nilai Ignasian itu menemukan wujud nyata dalam berbagai program pengembangan mahasiswa. Di USD, Pusat Studi Ignasian (PSI), SMI dan Campus Ministry (CM) menjadi motor penggerak implementasi pedagogi Ignasian, memastikan semangat ini hadir, mulai dari wilayah kebijakan hingga ke aktivitas di tingkat akar rumput; dari dinamik di wilayah akademik dan tridharma, hingga ke dalam praktik hidup sehari-hari seluruh civitas academica.
Salah satu program yang sangat menarik di USD adalah Formasi Cerdas Humanis (FCH), sebuah – model pembinaan terstruktur yang wajib diikuti semua mahasiswa. Menurut Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan, FCH dirancang untuk membentuk mahasiswa menjadi pribadi yang cerdas, humanis, dan reflektif.


"Melalui Formasi Cerdas Humanis, kami membantu mahasiswa melakukan pengolahan diri secara mendalam yang terdiri dari pengenalan diri, keberanian membuka diri, serta pendampingan menjadi pribadi sehat secara fisik dan mental," ungkapnya.
Program ini juga mengenalkan cara berelasi secara sehat dengan orang lain, memahami seksualitas, meningkatkan kepedulian terhadap kaum lemah, serta memupukkan rasa cinta dan peduli pada bumi sebagai rumah bersama.
Program ini dibagi ke dalam lima tahap per semester, mulai dari pengembangan diri, kesadaran global, aktualisasi minat-bakat, kompetensi global, hingga pembekalan masa depan. FCH mengarahkan mahasiswa memiliki lima karakter utama: Magis (hasrat menjadi lebih baik), berjiwa kepemimpinan, peduli sosial, peduli lingkungan hidup, dan reflektif.
Gemma, mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2021, merasakan manfaat program ini.
“Walaupun diwajibkan, rasanya FCH tuh bisa menjadi ajang untuk mengenal kemampuan yang kita miliki sekaligus mengeluarkan bakat. Banyak segmen yang memudahkan kami memilih sesuai kebutuhan,” ujarnya.
“Walaupun diwajibkan, rasanya FCH tuh bisa menjadi ajang untuk mengenal kemampuan yang kita miliki sekaligus mengeluarkan bakat. Banyak segmen yang memudahkan kami memilih sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Hal yang sama juga dirasakan Nadia, mahasiswa Akuntansi angkatan 2024.
"Lewat FCH, saya belajar mengembangkan kepribadian dan menciptakan lingkungan yang positif. Pada FCH II, saya diajak menyadari tanggung jawab kita sebagai makhluk Tuhan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.”
"Lewat FCH, saya belajar mengembangkan kepribadian dan menciptakan lingkungan yang positif. Pada FCH II, saya diajak menyadari tanggung jawab kita sebagai makhluk Tuhan untuk merawat bumi sebagai rumah bersama.”
Menjaga Api Semangat Ignasius
Dengan berbagai inisiatif itu, USD berupaya menghadirkan pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya. Cura personalis – perhatian pada perkembangan individu – diterjemahkan menjadi slogan cerdas dan humanis.
Dengan berbagai inisiatif itu, USD berupaya menghadirkan pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya. Cura personalis – perhatian pada perkembangan individu – diterjemahkan menjadi slogan cerdas dan humanis.
Karena bagi Ignasius, pendidikan sejati bukan hanya soal menguasai ilmu, tetapi juga menjadi pribadi yang reflektif, peduli, dan mampu memberi makna. Itulah api semangat Ignasius yang terus dijaga USD – agar pendidikan selalu menjadi sarana menghadirkan harapan bagi dunia.
***
Penulis: Vincentius Seto
Editor: Aura Palomita Rafiona




