USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pemilu 2024: Menuju Masyarakat Indonesia yang Lebih Bermartabat



Tanggal 14 Februari 2024 nanti, lebih dari dua ratus juta warga negara Indonesia akan menggunakan hak suaranya dalam pemungutan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Pemilu 2024 adalah gelaran “pesta demokrasi” yang ke-13 bagi warga negara Indonesia. Khusus untuk Pemilu tahun 2024 ini, seluruh warga negara Indonesia yang telah memiliki hak suara, dapat memilih pasangan Presiden-Wakil Presiden, dan para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR-D) baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun DPR-RI serta Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI) secara serentak.
 
Melihat perjalanan demokrasi di Indonesia, tidak dapat disangkal bahwa Pemilu menjadi peristiwa yang penting bagi setiap warga negara. Oleh karenanya, setiap gelaran Pemilu selalu menjadi perhatian seluruh warga negara, tak terkecuali bagi warga Universitas Sanata Dharma (USD). Pemilu menjadi saat dan wahana dimana harapan setiap warga negara disuarakan secara demokratis. Meski di sisi lain, Pemilu juga diwarnai oleh kekhawatiran akan situasi perpecahan dan konflik secara terbuka. Lalu bagaimana warga USD menyambut Pemilu 2024?

Pemilu 2024:  Harapan dan Keprihatinan di tengah Antusiasme Berdemokrasi 

Pada pelaksanaan Pemilu 2024, USD bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Daerah Kabupaten Sleman memfasilitasi para mahasiswa dalam menggunakan hak pilihnya, melalui pembukaan Tempat Pemungutan Suara (TPS) di kampus dan layanan pindah memilih. 
 
Layanan pindah memilih, sesuai aturan KPU, dapat dilaksanakan di kampus untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa perantauan yang sudah terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) di daerah asal, tetapi tidak bisa kembali ke daerahnya untuk menggunakan hak pilih karena sedang menjalani tugas belajar. Demikian disampaikan oleh Yosaphat Widya Asmara, Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 910 USD. 

"Di kampus USD, akan dibuka dua TPS, yaitu TPS 909 dan 910, yang akan melayani 532 mahasiswa perantauan yang mengikuti layanan pindah memilih. Selain itu, ada sekitar 800 mahasiswa yang juga akan difasilitasi di TPS lain yang tersebar di wilayah Kelurahan Caturtunggal,” ungkap pria yang juga seorang tenaga kependidikan di USD ini. 
 
Sejumlah mahasiswa USD nampak antusias menyambut Pemilu 2024 ini, mengingat beberapa dari mereka adalah pemilih pemula. Hal ini nampak ketika dibuka pendaftaran pindah memilih pada Senin, 8 Januari 2024 yang lalu di lobby Auditorium Driyarkara.

“Saya mengikuti layanan pindah memilih karena saat pencoblosan sudah masuk masa aktif kuliah. Daripada bolak-balik, saya mengajukan pindah memilih di sini. Dan ini juga pemilu pertama bagi saya,” ungkap Tarissa Dea Puspita, mahasiswa Pendidikan Sejarah yang berasal dari Purworejo, Jawa Tengah. 
 
Hal yang sama juga diungkapkan Graciela Natania, mahasiswa Pendidikan Akuntansi, asal Padang, Sumatera Barat.
 
“Saya tidak mungkin pulang ke Padang untuk memilih, makanya saya ikut mendaftar pindah memilih di sini. Sayangnya, saya tidak dapat di TPS kampus, tapi dapat di Condongcatur,” ungkapnya.

Suasana Posko Layanan Pindah Memilih di Auditorium Driyarkara USD, 8 Januari 2024 (dok. KPPS 909)
 
Antusiasme para mahasiswa juga terlihat pada mereka yang ambil bagian menjadi anggota KPPS di TPS 909 dan 910 kampus USD. Salah satunya adalah Yabes Maruli Butar-Butar, mahasiswa Sastra Inggris, asal Medan, Sumatera Utara. 

“Pastinya senang bisa menjadi anggota KPPS. Setelah dapat informasi dari Sekretariat WR III, saya langsung mendaftar karena saya sendiri tertarik dan ingin turut berpartisipasi membantu mensukseskan Pemilu tahun ini, apalagi saya bertugas di kampus sendiri membantu teman-teman mahasiswa lain,” ujarnya.

Tentu saja di balik antusiasme para mahasiswa dan upaya yang dilakukan oleh pihak kampus, terdapat pula keprihatinan dan kekhawatiran jika Pemilu tidak berjalan dengan damai, jujur dan adil.

Vincentius Hans, seorang mahasiswa Manajemen, berpendapat bahwa perpecahan bukanlah hal yang jarang ditemui di setiap penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, namun mindset ini harus dirubah dengan saling menghargai dan tidak saling menjatuhkan pihak lain.

“Pemilu memang jadi momen yang seringkali bikin perpecahan, semua calon dan pendukungnya berkompetisi keras buat nyalurin visi mereka buat negara ini. Tapi seharusnya kita bisa bersaing dengan adil dan saling menghargai pandangan dari semua pihak. Jadi, Pemilu nggak jadi bumerang yang bikin pecah belah kita sebagai bangsa, tapi justru bikin kita lebih padu,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan Jessica Kristanti, mahasiswa Akuntansi asal Temanggung, Jawa Tengah, yang menyampaikan perlunya kesadaran berdemokrasi bagi semua warga negara yang mempunyai hak pilih. 

“Saya berharap semua mahasiswa dapat memilih calon pemimpin dengan jernih. Mempertimbangkan track-record dan kinerja mereka.  Sayang sekali kalau ada yang justru memilih berdasarkan fanatisme tertentu. Kita sedang menentukan masa depan bersama, bukan menjadi suporter fanatik yang saling bermusuhan antar kelompok” ujarnya.

Pemilu 2024: Proses Demokrasi Demi Indonesia yang Lebih Bermartabat

Menyadari keprihatinan bahwa Pemilu juga berpotensi menjadi ajang perpecahan antar kelompok, civitas academica USD merasa perlunya pendidikan politik yang baik bagi warga negara. 

Seperti yang diungkapkan oleh Winsy Sekarputri, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, asal Surakarta, Jawa Tengah. Ia berupaya mencari rekam jejak para calon pemimpin, meski sebagai Gen Z, sebagian besar informasi ia dapatkan dari media sosial. 

“Saya sangat berharap Pemilu ini dapat menghasilkan pemimpin yang lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat di semua lapisan dan mempersatukan masyarakat yang beragam. Kita perlu menimbang dengan baik calon pemimpin kita. Informasi tentang mereka ada di berbagai media sosial,  dan kita hanya perlu mencari tahu dengan bijak” ungkapnya. 

Sejalan dengan harapan itu, Dionisius Yonas Yusipa, mahasiswa Farmasi, berharap pemilih tidak terjerumus informasi palsu yang bisa memancing perpecahan di masyarakat.

Suasana Sosialiasi Pemilu dan Nonton Bareng di R. Drost Kampus III USD, 31 Januari 2024 (dok. Humas USD)

“Sebenarnya ancaman terbesar Pemilu, adalah disinformasi dan hoax yang bertebaran, apalagi selama masa kampanye yang kita semua tahu terjadi karena persaingan politik. Inilah yang terkadang membuat bentrok dan perseteruan antar pendukung. Semoga para pemilih dapat memilah informasi mana yang terpercaya dan yang tidak, agar dapat memberikan suaranya dengan tepat,” ujar Dion.

Sementara itu bagi para dosen, momentum Pemilu adalah proses pendidikan politik yang baik bagi mahasiswa. Dosen serta kampus mempunyai tanggung jawab untuk memberi pemahaman dan pembekalan politik yang baik kepada mahasiswa. Seperti yang disampaikan oleh Antonius Budisusila, dosen Prodi Ekonomi USD. 

“Kami para dosen berperan memberikan pemahaman politik yang baik kepada para mahasiswa. Di prodi kami, para mahasiswa belajar ekonomi politik. Di kelas, mereka banyak belajar mengenai demokrasi dan sering terjadi adu argumentasi karena pandangan yang berbeda di antara mereka. Saya rasa itu justru hal yang positif, karena dengan begitu mereka akan menghargai perbedaan pendapat,” ungkapnya.

ilustrasi Mahasiswa USD Memilih (Humas USD)

Rektor USD, Albertus Bagus Laksana, S.J., mengungkapkan bahwa sebagai perguruan tinggi, USD mendorong terciptanya Pemilu yang jujur, adil dan bermartabat.

“Kampus mendukung terciptanya Pemilu sebagai proses demokrasi yang berkualitas, jujur, adil, dan bermartabat. Sesuai dengan tema Dies Natalis 68 kita, Pemilu hendaknya dibarengi dengan komitmen setiap warga negara untuk memegang teguh nilai-nilai kebangsaan, persatuan dan keragaman Nusantara, demi perkembangan bangsa yang otentik,” ungkapnya. 

Lebih lanjut Romo Bagus juga menyampaikan bahwa USD telah mengundang para politisi dan para ahli untuk berdialog mengenai peran perguruan tinggi dalam politik masa kini, sebagai sebuah proses pendidikan politik kebangsaan bagi civitas akademika.  

“Terlepas dari semua hal kekurangan dan catatan atas Pemilu, saya berharap seluruh warga Sanata Dharma dapat dapat menggunakan hak pilihnya dengan penuh tanggung jawab. Pemilu adalah cara demokratis yang disediakan bagi rakyat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih bermartabat,” ajak Romo Bagus.
 
***
 
Penulis: Vincentius Seto, Antonius Febri Harsanto (Humas USD)
Foto: Kusmanto (Humas USD)
 

  kembali