| |
|
 |
|
HOME | 27 Maret 2007 | 07:59:51
Kalimat itu merupakan judul sebuah buku terbaru karya penulis Femi Adi Soempeno dan AA Kunto A, yang dilaunching sekaligus dibedah di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Sabtu (24/3). Turut hadir sebagai pembicara Mantan Menteri Pertahanan Mohammad Mahfud MD dan pengamat militer MT Arifin.
Dalam acara yang diprakarsai oleh Pusat Sejarah dan Etika Politik (PUSdEP) USD dan Galang Press ini, Moh. Mahfud MD berpendapat bahwa buku Perang Panglima, Siapa Mengkhianati Siapa memang menarik dan memancing selera untuk dibaca terutama oleh mereka yang dulu ikut terlibat dan melihat gejolak dan perubahan politik pada tahun 1998 yang kemudian dikenal sebagai Reformasi 1998 itu. Bahwa buku ini memuat beberapa fakta yang kurang akurat itu biasa saja, tidak mengurangi keutuhan konstruksi dan nilai baik untuk buku ini. Apalagi, seperti dapat dilihat dari sumber penulisannya, buku ini memang lebih mengandalkan pada pemberitaan media massa yang kerapkali menyajikan data, fakta, dan opini secara berbeda.
Buku ini secara lugas membeberkan praktek pengkhianatan yang pernah terjadi antara kedua Panglima, yakni Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Prabowo Subianto dan Panglima ABRI (Pangab) Wiranto. Yakni sebuah ranah yang mungkin terlupakan oleh pembaca sejarah negeri merah putih ini. Dengan lugas buku ini menggambarkan kembali pelbagai upaya saling menjatuhkan baik dari kubu Prabowo maupun Wiranto. Di masa itu, memang lahir dua klik yang cukup kental dalam tubuh militer, yaitu kelompok Wiranto yang ingin reformasi atau perubahan yang bertahap, dan kelompok Prabowo yang juga mengusung misi perubahan namun tetap bertekad melindungi the first family, Keluarga Besar Cendana.
Sementara itu, secara tulus diakui oleh Femi Adi Soempeno dan AA Kunto A bahwa kemunculan buku catatan peristiwa ini terinspirasi oleh terbitnya buku Detik-Detik yang Menentukan karya mantan Presiden BJ Habibie, menjelang akhir tahun lalu. Kehadiran buku itu seolah menjadi badai dari pusaran badai kecil yang ”bibitnya” adalah buku Wiranto Bersaksi di Tengah Badai, yang hadir di khalayak beberapa waktu sebelumnya.
Di balik tirai pergulatan antara kedua Panglima tersebut, belakangan disinyalir keduanya telah mulai menyusun barisan mengarah pada pesta politik 2009. Tentu saja target utamanya adalah kereta kencana RI-1. Wiranto telah meluncurkan amunisi pertamanya, Partai Hanura. Sedangkan rival utamanya Prabowo mulai membangun benteng kekuasaan dengan merapatkan diri dengan barisan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Ingatan kita akan masa lalu merupakan aset penting sebagai satu-satunya warisan yang perlu dirawat. Pengalaman masa lalu tentu akan berpengaruh pada langkah masa depan. Kita harus selalu ingat akan catatan-catatan masa lalu, supaya jauh lebih jernih dan cerdas ketika menentukan siapa pun di antara mereka yang pantas duduk di kursi panas kepresidenan. Jangan sampai ketika terhenyak, saat itu pula baru tersadar bahwa kita menjadi penonton yang baik atas pertarungan Dua Sang Panglima.(Rjl) |
|
|